Koma.id — Peneliti Politika Research & Consulting (PRC), Nurul Fatta mengatakan dukungan terhadap Presiden Prabowo Subianto untuk kembali maju pada Pemilihan Presiden (Pilpres) periode berikutnya kian menguat di kalangan partai politik. Menguatnya dukungan tersebut dinilai tidak lepas dari faktor elektabilitas Prabowo yang konsisten berada di posisi teratas dalam berbagai survei nasional.
Nurul Fatta menilai temuan survei menjadi dasar utama mengapa wacana Prabowo dua periode semakin dianggap rasional secara politik. Menurutnya, partai-partai cenderung membaca peluang elektoral sebagai pertimbangan utama dalam menentukan arah dukungan.
“Ketika elektabilitas seorang presiden petahana tetap tinggi dan stabil, maka secara kalkulasi politik, mendorong kembali figur yang sama menjadi pilihan paling aman,” kata Nurul Fatta.
Ia menjelaskan, bagi partai politik, mengusung kembali figur dengan tingkat keterpilihan tinggi dapat meminimalkan risiko kekalahan dalam kontestasi nasional. Dalam konteks ini, Prabowo dipandang masih memiliki daya tarik elektoral yang kuat lintas segmen pemilih.
Namun demikian, Nurul Fatta menyoroti adanya fenomena menarik di balik menguatnya wacana tersebut. Sejumlah partai menyatakan dukungan terhadap Prabowo untuk dua periode, tetapi tidak secara eksplisit mengaitkannya dengan paket pasangan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Menurut Nurul Fatta, sikap tersebut menunjukkan bahwa magnet elektoral Prabowo berdiri kuat sebagai figur tunggal, sementara konfigurasi pasangan calon wakil presiden masih menjadi ruang terbuka yang sarat dengan tarik-menarik kepentingan politik.
“Ini menandakan bahwa dukungan terhadap Prabowo lebih bersifat personal dan figuratif. Soal pasangan, itu masih menjadi arena negosiasi politik yang dinamis ke depan,” ujarnya.
Fatta menilai, situasi ini membuka peluang bagi berbagai partai untuk menegosiasikan posisi strategis, baik dalam bentuk pengajuan nama calon wakil presiden maupun kepentingan politik lain dalam koalisi.
Dengan peta dukungan yang masih cair, konfigurasi politik menuju Pilpres mendatang dinilai masih akan terus bergerak, seiring dengan dinamika kepentingan partai dan arah konsolidasi kekuatan di tingkat nasional.







