Koma.id – Hari Ibu yang diperingati setiap 22 Desember tak selalu dirayakan dengan hadiah atau perayaan besar. Di sejumlah tempat, peringatan ini justru dimaknai melalui sebuah tradisi sederhana namun sarat makna, yaitu membasuh kaki ibu.
Dalam prosesi yang berlangsung khidmat, seorang anak duduk bersimpuh di hadapan ibunya. Kaki sang ibu dibasuh perlahan dengan air, tangan kecil menyentuh kaki yang selama bertahun-tahun telah melangkah, bekerja, dan berkorban tanpa pamrih. Tak ada kata-kata berlebihan. Hanya diam, tunduk, dan rasa hormat yang mengalir.
Tradisi membasuh kaki ibu menjadi simbol bakti dan kasih anak kepada perempuan yang telah melahirkan dan membesarkan mereka. Di momen ini, banyak emosi yang tak terucap menemukan jalannya. Tangis haru kerap mengiringi prosesi, baik dari sang anak maupun dari ibu yang dibasuh kakinya.
Bagi para ibu, momen tersebut menjadi ruang doa. Di hadapan anak-anaknya, mereka memanjatkan harapan agar sang anak tumbuh sehat, berakhlak baik, dan menjalani hidup tanpa beban yang terlalu berat. Sementara bagi anak-anak, prosesi ini menjadi pelajaran tentang menghormati orang tua, terutama ibu, yang jasanya kerap tak terhitung.
Tradisi membasuh kaki ibu bukan sekadar ritual simbolik. Ia menjadi pengingat bahwa penghormatan kepada ibu tak selalu memerlukan kemewahan. Cukup dengan kehadiran, ketundukan, dan keikhlasan.
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, tradisi ini menghadirkan jeda. Sebuah ruang sunyi untuk kembali mengingat bahwa, “Di balik setiap langkah seorang anak, ada kaki ibu yang lebih dulu lelah berjalan.”














