Koma.id – Menyambut peringatan ke-80 Hari Ulang Tahun Republik Indonesia, sejumlah pengamat dan akademisi menyoroti potensi penyusupan kelompok Anarko-Sindikalis dalam aksi publik—sebuah fenomena yang sebelumnya menimbulkan kekisruhan di tengah aksi massa.
Jejak Penyusupan dalam Aksi Publik
Menurut riset akademisi, kelompok Anarko-Sindikalis pernah menyusup ke sejumlah aksi massa, termasuk unjuk rasa buruh, dan melakukan tindakan destruktif seperti vandalisme dan intimidasi simbolik. Aksi tersebut tidak hanya menciderai pesan utama gerakan, tapi juga mengganggu ketertiban publik.
Pandangan Akademisi UGM
Seorang aktivis sekaligus dosen di Universitas Gadjah Mada menilai bahwa phobia berlebihan terhadap kelompok ini bisa menciptakan “hantu baru”—stigma yang justru membangkitkan rasa penasaran publik, dan malah memperkuat daya tarik kelompok ekstrem tersebut.
Makna Penting di Momen Nasional
Beberapa poin penting terkait konteks ini menjelang perayaan nasional:
– Narasi ekstrem bisa merusak makna kebangsaan. Aksi simbolik yang liar tak seharusnya mengaburkan semangat kemerdekaan.
– Publik perlu menyaring informasi dengan kritis. Hindari reaksi emosional yang memperkuat narasi kelompok radikal.
– Bangun momen kemerdekaan dengan kesadaran kolektif. Momentum 17 Agustus harus menjadi sarana penguatan identitas nasional, bukan arena ideologis perusak.
Menjelang HUT RI ke-80, seluruh lapisan masyarakat diajak:
1. Waspada terhadap potensi penyusupan ideologis dalam bentuk apapun.
2. Kritis terhadap narasi radikal di ruang publik dan digital.
3. Bersama menjaga perayaan sebagai wujud kebersamaan, bukan fragmen identitas partisan.













