Koma.id | Sorong – Pulau Gag, Raja Ampat, kembali menjadi sorotan setelah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia melakukan kunjungan kerja ke lokasi tambang nikel yang dikritik karena dugaan dampak buruk terhadap lingkungan. Evaluasi menyeluruh dilakukan pemerintah sebelum mengambil keputusan final.
Kunjungan ini diawali dengan aksi protes oleh aktivis lingkungan di Kota Sorong, yang menuntut penghentian total aktivitas tambang di kawasan konservasi Raja Ampat. Namun, saat tiba di Pulau Gag, rombongan Menteri ESDM disambut ratusan warga dan pekerja tambang yang menolak penutupan.
Dalam pertemuan dengan warga, mereka menyampaikan bahwa kondisi lingkungan tetap terjaga dan operasional tambang mendukung perekonomian masyarakat setempat. Spanduk bertuliskan “Laut Kami Bersih, Berita Pulau Gag Hancur Itu Hoaks” dibentangkan sebagai bentuk dukungan terhadap kelanjutan industri tambang di wilayah tersebut.
Bahlil menegaskan bahwa keputusan terkait tambang nikel akan dibuat setelah evaluasi menyeluruh.
“Kami datang untuk melihat langsung kondisi lapangan. Pemerintah tidak akan gegabah. Semua akan kami evaluasi sebelum mengambil keputusan resmi,” ujarnya.
Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu menambahkan bahwa isu yang beredar di media sosial banyak yang tidak benar.

“Kita jaga alam kita bersama, dan kami mendukung langkah evaluasi pemerintah pusat,” katanya.
Kementerian ESDM dan KLHK sebelumnya telah menghentikan sementara operasi empat perusahaan tambang untuk dilakukan evaluasi total. Masyarakat adat dan aktivis lingkungan mendesak agar pemerintah serius dalam mengatasi dampak ekologis dan tidak menghindari dialog terbuka.
Evaluasi yang dilakukan di Pulau Gag akan menentukan apakah tambang nikel dapat kembali beroperasi atau dihentikan permanen. Pemerintah memastikan bahwa keputusan yang diambil akan mempertimbangkan keberlanjutan ekosistem laut Raja Ampat serta kesejahteraan masyarakat sekitar.







