Koma.id– Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor akhirnya mengungkap hasil laboratorium terkait kasus dugaan keracunan massal yang menimpa ratusan siswa dan guru di Kota Bogor. Berdasarkan hasil pemeriksaan oleh Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kota Bogor, dua jenis makanan dinyatakan terindikasi mengandung bakteri berbahaya, yaitu Escherichia coli (E. coli) dan Salmonella.
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menjelaskan hasil pemeriksaan terhadap sampel makanan seperti nasi, telur ceplok, tumis tahu dan toge, serta bahan lainnya telah diterimanya pagi tadi. Dari hasil tersebut, ditemukan bahwa dua bahan makanan positif mengandung bakteri penyebab penyakit.
“Dari hasil pemeriksaan lab yang sudah dilakukan hampir empat hari terakhir, menunjukkan bahwa beberapa bahan (makanan) mengandung bakteri coli dan salmonella,” kata Dedie, dikutip.
Menurut Dedie, telur ceplok berbumbu itu dimasak pada malam hari dan baru didistribusikan keesokan siangnya, yang diduga menjadi salah satu penyebab berkembangnya bakteri sehingga kuat dugaan menjadi pemicu utama keracunan yang berdampak pada lebih dari 200 siswa.
“Bakteri coli dan salmonella didapat dari dua jenis makanan yang disajikan kepada siswa yang mengakibatkan 200 siswa terdampak,” ucap Dedie Rachim.
Selain sampel makanan, pihaknya melakukan pemeriksaan lanjutan terhadap sampel air dan siswa terdampak yang diperlukan pemeriksaan secara mendalam. Hasil pemeriksaan tambahan tersebut diperkirakan keluar sore ini.
“Untuk pemeriksaan tambahan berupa air dan tubuh dari siswa yang harus diperiksa lebih mendalam, hasilnya baru diperoleh sore ini,” tutur Dedie.
Dedie Rachim mengatakan kesimpulan sementara telah terjadi pendistribusian makanan yang mengandung bakteri coli dan salmonella yang diduga atau dari sampel makanan yang diuji laboratorium diperoleh dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Bosowa Bina Insani.
Pemkot Bogor meminta ke depan peristiwa ini tidak terjadi lagi di Kota Bogor. Dedie Rachim juga meminta standar operasional prosedur (SOP) termasuk pengawasan terhadap penyediaan makan bergizi gratis (MBG) ini untuk diperketat lagi.
“Ini jangan dianggap sepele, karena menurut kami ini sesuatu yang sangat serius, mengingat pada saat anak-anak terdampak dengan adanya dugaan keracunan makanan, maka Pemerintah Kota Bogor harus ikut serta terlibat terutama dalam penanganan medisnya,” katanya.
Pemkot Bogor juga telah menetapkan kejadian luar biasa (KLB), Kamis (8/5/2025), sebagai langkah cepat penanganan dan jaminan pembiayaan medis korban di rumah sakit ditanggung APBD dari sumber anggaran biaya tidak terduga (BTT).
“Hingga kemarin ada 12 siswa yang masih dirawat di rumah sakit dan berangsur membaik. Sebagian keluhannya sama, badan masih lemas, mual, dan pusing,” imbuhnya.
Dedie Rachim menandaskan jumlah korban dugaan keracunan mengalami penambahan kasus. Tercatat saat ini 213 orang dari data terakhir 210 orang.
“Jadi, memang ada keraguan, karena ada yang tidak punya BPJS dan asuransi, jika dibawa ke rumah sakit siapa yang membiayai, makanya ditetapkan KLB supaya siapa pun yang terdampak, terindikasi keracunan, berobat ke rumah sakit,” tutup Dedie.
Sementara itu jumlah korban keracunan program makan bergizi gratis (MBG) di Bogor terus bertambah. Dari data terbaru, sudah 213 orang yang terdampak, meningkat dari 210 orang sebelumnya. Sebanyak 12 siswa masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit dengan gejala mual, pusing, dan tubuh lemas. Insiden tersebut telah membuat Pemkot Bogor menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB).







