Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Nasional

Pesan Pemilu Damai 2024 Uskup Agung Jakarta kepada Umat Katolik

Views
×

Pesan Pemilu Damai 2024 Uskup Agung Jakarta kepada Umat Katolik

Sebarkan artikel ini
Pesan Pemilu Damai 2024 Uskup Agung Jakarta kepada Umat Katolik
(KOMPAS.com/ZINTAN PRIHATINI)

Koma.id Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo mengajak umat Katolik tak golput pada gelaran Pemilu 2024 mendatang.

Pesan Pemilu damai ini disampaikan agar jemaat memilih calon presiden dan calon wakil presiden dengan cerdas.

Silakan gulirkan ke bawah

“Kepada umat Katolik, silakan datang untuk ikut memilih calon-calon pemimpin kita. Dengan suara hati masing-masing, tidak ada paksaan. Kalau saya mengatakan ‘pilih ini (calon presiden)’ nanti saya di-kartu merah oleh Paus,” ujar Suharyo.

Ia pun mengimbau jemaat menentukan pilihan pemimpin negara sesuai hati nurani. Suharyo kemudian mengingatkan agar jemaat memilih pemimpin dengan mempertimbangkan segala aspek.

“Karena sudah diumumkan lembaga resmi berwenang kita juga mesti menjaga persatuan, tetap damai, karena ciri yang sangat istimewa dari bangsa kita adalah persatuan,” ungkap dia.

Dalam kesempatan itu, Suharyo turut menyampaikan supaya umat Katolik tidak membuang-buang makanan. Pasalnya, banyaknya sisa makanan yang dibuang mencapai angka Rp 300 triliun.

Padahal, 21,6 persen anak di Indonesia masih mengidap stunting.

“Memang makanan yang dibuang sebagai sampah pada tahun 2022 kalau di-rupiah-kan jumlah Rp 330 triliun,” jelas Suharyo.

“Sementara anak-anak kita kurang gizi, makanan yang dibuang sekian banyak,” imbuh dia.

Oleh karena itu, Suharyo meminta umat Katolik menyadari bahwa membuang makanan sama dengan merampas hak orang lain.

Dia mengajak umat lebih peduli kepada sesama dengan tidak membuang makanan.

“Kadang-kadang matanya lebih besar dari pada perutnya. Dipesan tetapi nanti tiga perempat (porsinya) dibuang, hanya sedikit saja yang dicicipi. Itu termasuk dosa merampas hak orang miskin,” tuturnya.

Ia pun berpandangan, perbaikan gizi pada anak untuk mencegah stunting bukan hanya tanggung jawab negara, melainkan juga kesadaran masyarakat.

Suharyo lalu menyoroti temuan banyaknya orangtua yang justru membiarkan anak mereka stunting agar mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah.

“Alasannya supaya kalau anak-anak itu tetap stunting, tetap kurus, tetap kurang gizi. Itu kan di luar pemikiran kita. Mestinya bantuan kepada anak-anak ya sampai, pada nyatanya tidak,” papar Suharyo.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.