Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Nasional

Kapolres Nagekeo Tancap Sangkur, Masyarakat Kawa : Itu Bentuk Janji Penuhi Hak Kami, Bukan Intimidasi

Views
×

Kapolres Nagekeo Tancap Sangkur, Masyarakat Kawa : Itu Bentuk Janji Penuhi Hak Kami, Bukan Intimidasi

Sebarkan artikel ini
Kapolres Nagekeo Tancap Sangkur, Masyarakat Kawa : Itu Bentuk Janji Penuhi Hak Kami, Bukan Intimidasi

Koma.id0 – Aksi Kapolres Nagekeo, AKBP Yudha Pranata menancapkan sangkur di atas meja berwarna biru viral di media sosial. Aksi ini menuai kritik keras para netizen lantaran netizen menganggap tindakan tersebut sebagai bagian dari intimidasi terhadap warga yang saat itu hadir dalam pertemuan.

Perwakilan Tokoh Masyarakat Kawa, Ferdinandus Dosa, yang saat itu juga hadir dalam pertemuan yang berlangsung pada 2 Agustus 2022 lalu bersama Kapolres Nagekeo, angkat bicara.

Silakan gulirkan ke bawah

Ferdinandus sebagai masyarakat Kawa, yang notabene disebut netizen pada umumnya sebagai obyek intimidasi dari Kapolres Nagekeo memberikan penjelasan lengkap sesuai konteks peritiwa yang terjadi saat itu. Menurutnya, anggapan netizen atau masyarakat yang menyebut aksi Kapolres Nagekeo sebagai bentuk intimidasi atau pun arogansi Kapolres Nagekeo itu tidak benar.

“Maka dari itu kami minta, kita masyarakat Nagekeo, masyarakat yang menonton video apapun bentuknya, di sini kami mengklarifikasi bahwa di saat itu kami tidak sedang diintimidasi,” sebut Ferdi dalam penjelasannya seperti yang dilansir TribunFlores.com, 4 Mei 2023 di Nagekeo terkhusus di tempat dimana sangkur tersebut tertancap dan masih ada hingga kini yakni di Waduk Lambo.

Ferdi menyebutkan jangan sampai dengan hal-hal yang diviralkan itu tidak menguntungkan masyarakat Kawa.

“Kami lihat selama proses pembangunan waduk ini Kapolres sangat membantu kami jangan sampai dengan viral-viral itu melemahkan bapak Kapolres untuk tidak membantu kami hanya karena persoalan ini,” ungkapnya.

“Jadi dari itu kami ingin mengklarifikasi kepada kita semua masyarakat jangan sampai dengan cara-caranya kita itu menghambat proses pembangunan waduk di Lambo ini,” jelasnya lagi.

Pada intinya masyarakat adat siap bersinergi bersama Kambtibmas bersama pemerintah untuk menyukseskan proyek strategis nasional (PSN) tersebut.

“Kami masyarakat adat sangat mendukung itu, kami siap bergandengan tangan dengan kamtibmas dengan Kapolres AKBP Yudha Pranata untuk tetap bersama kami sampai waduk terwujud. itu menjadi harapan kami Karena di dalam sangkur ini, kami masih menunggu janji kami, janji bapak Kapolres terhadap kami,” tegasnya.

Adapun Ferdi melihat bahwa sikap Kapolres, memiliki sikap spontanitas untuk membangun komitmen dengan masyarakat demi tercapainya hak-hak masyarakat.

“Kami melihat bahwa di sangkur ini, hak kami masih kami menunggu, yang dimana di dalam sangkur ini kami pegang teguh apa yang kapolres janji kepada kami, sampai hak kami terpenuhi semua,” ungkapnya.

Mewakili masyarakat adat, penancapan sangkur itu sebagai bentuk perjanjian Kapolres Nagekeo dengan masyarakat adat di Nagekeo. Hingga kini pun perjanjian yang telah dikukuhkan lewat penancapan sangkur masih ditunggu masyarakat adat untuk dipenuhi Kapolres Nagekeo.

Ferdi juga menjelaskan, sebelum ada perjanjian antara Kapolres Nagekeo dengan masyarakat berupa penancapan sangkur, pihaknya bersama masyarakat Suku Kawa kerap kali melakukan pemblokiran di sekitar area pembangunan Waduk Lambo lantaran hak-hak mereka belum terpenuhi.

“Saya Ferdinandus Dosa yang dimana saya ini adalah keterwakilan dari masyarakat Kawa yang pada saat itu dimana saya adalah pemimpin yang dimana untuk keluarga besar Kawa untuk melakukan pemblokiran-pemblokiran dimana hak kami yang belum terpenuhi,” demikian penjelasannya.

Namun setelah adanya perjanjian antara Kapolres Nagekeo untuk membantu memenuhi hak masyarakat adat Suku Kawa yang ditandai dengan penancapan Sangkur di atas meja, Ferdi bersama masyarakat yang lain merasa terbantu.

“Maka dimana dinamika yang terjadi saat itu bukan sekali dua kali tetapi sering kali kami melakukan pemblokiran. Maka kami melihat dengan apa yang terjadi saat itu pada 2 Agustus 2022, itu hal yang sangat membantu kami masyarakat adat Kawa yang dimana kami melihat bapak Kapolres begitu sungguh-sungguh membantu kami masyarakat adat Kawa bahkan sebelum melakukan penancapan sangkur di situ, melihat spontanitas bapa kapolres untuk membangun komitmen bersama,” tandasnya.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.