Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Ragam

5 Jurusan Kuliah dengan Pengangguran Terbanyak di Indonesia, Manajemen Teratas

×

5 Jurusan Kuliah dengan Pengangguran Terbanyak di Indonesia, Manajemen Teratas

Sebarkan artikel ini
Seremonial Wisuda
Kegiatan lempar topi toga menjadi bagian dari seremonial wisuda tingkat perguruan tinggi.

KOMA.ID, JAKARTA – Gelar sarjana belum otomatis menjadi jaminan seseorang langsung terserap dunia kerja. Data terbaru menunjukkan sejumlah bidang studi justru memiliki proporsi cukup besar di antara kelompok penganggur berpendidikan minimal sarjana (S1) di Indonesia.

Temuan tersebut tercantum dalam Labor Market Brief Volume 7: Ketika Akses Pendidikan Tinggi Bertambah, Apakah Pasar Kerja Siap? yang diterbitkan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) pada Juli 2026. Data dalam laporan tersebut diolah dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2025.

Silakan gulirkan ke bawah

Berdasarkan laporan tersebut, Manajemen menjadi bidang studi dengan proporsi terbesar di antara penganggur berpendidikan minimal S1, yakni mencapai 10,3 persen.

Posisi berikutnya ditempati bidang Hukum sebesar 9 persen, Ekonomi 8,7 persen, Pendidikan 7,1 persen, dan Akuntansi 5,1 persen.

Jika lima bidang studi tersebut digabungkan, kontribusinya mencapai sekitar 40 persen dari keseluruhan penganggur berpendidikan minimal S1.

Daftar Jurusan dengan Proporsi Penganggur Terbesar

Berikut lima bidang studi dengan proporsi terbesar di antara penganggur berpendidikan minimal S1:

Manajemen – 10,3 persen
Hukum – 9 persen
Ekonomi – 8,7 persen
Pendidikan – 7,1 persen
Akuntansi – 5,1 persen

Selain kelima bidang tersebut, Ilmu Komputer dan Informatika juga tercatat cukup tinggi dengan proporsi sekitar 4,6 persen.

Menariknya, tingginya angka pengangguran pada bidang komputer dan informatika tidak serta-merta menunjukkan bahwa sektor digital kehilangan prospek. LPEM FEB UI justru menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan keterampilan digital tidak otomatis membuat seluruh lulusannya langsung terserap industri. Faktor seperti keterampilan praktis dan pengalaman kerja turut menentukan daya saing lulusan.

Pengangguran Lulusan Sarjana Meningkat

Persoalan tersebut juga terlihat dari perkembangan tingkat pengangguran terbuka (TPT) masyarakat berpendidikan minimal S1.

Berdasarkan data yang diolah LPEM FEB UI, TPT kelompok tersebut tercatat 4,80 persen pada 2022, kemudian meningkat menjadi 5,18 persen pada 2023, 5,25 persen pada 2024, dan mencapai 5,39 persen pada 2025.

Kenaikan tersebut menunjukkan adanya tantangan dalam mempertemukan pertumbuhan jumlah lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan pasar kerja.

Bukan Berarti Jurusannya Tidak Punya Prospek

Tingginya proporsi penganggur dari suatu jurusan juga tidak dapat langsung dimaknai bahwa jurusan tersebut buruk atau tidak memiliki masa depan.

Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah jumlah lulusan. Bidang seperti Manajemen, Hukum, Ekonomi, Pendidikan, dan Akuntansi tersedia di banyak perguruan tinggi dan memiliki jumlah mahasiswa serta lulusan yang relatif besar.

Selain itu, lulusan dari bidang bisnis dan hukum juga cenderung masuk ke pasar kerja yang luas dan bersaing dengan lulusan dari berbagai disiplin ilmu untuk memperoleh posisi entry-level. Sementara itu, penyerapan lulusan bidang Pendidikan juga dipengaruhi pola rekrutmen serta kebutuhan tenaga pendidik yang berbeda-beda di setiap daerah.

Karena itu, data tersebut lebih tepat dibaca sebagai gambaran mengenai tantangan pasar kerja lulusan perguruan tinggi, bukan sebagai daftar jurusan yang harus dihindari calon mahasiswa.

Pada akhirnya, selain memilih bidang studi sesuai minat dan kemampuan, mahasiswa juga perlu membangun keterampilan praktis, pengalaman kerja, serta kompetensi yang relevan dengan perkembangan kebutuhan industri.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.