Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Ragam

Ferry Koto Soroti Kelangkaan Pertalite, Sebut Kenaikan Pertamax Picu Migrasi Konsumen

Views
×

Ferry Koto Soroti Kelangkaan Pertalite, Sebut Kenaikan Pertamax Picu Migrasi Konsumen

Sebarkan artikel ini
Ferry Koto Soroti Kelangkaan Pertalite, Sebut Kenaikan Pertamax Picu Migrasi Konsumen

KOMA.ID, JAKARTA – Influencer dan pengamat kebijakan publik Zulfery Yusal Koto atau yang lebih dikenal sebagai Ferry Koto menyoroti mulai munculnya laporan kelangkaan Pertalite di sejumlah SPBU pasca kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter.

Menurut Ferry, fenomena tersebut menjadi indikasi awal terjadinya perpindahan besar-besaran pengguna Pertamax ke Pertalite, khususnya dari kalangan pengguna sepeda motor yang hingga kini belum dikenakan pembatasan pembelian BBM subsidi.

Silakan gulirkan ke bawah

“Baru saja dua hari, sudah mulai terjadi kekosongan Pertalite di SPBU. Ini salah satu contoh saja di Subang,” kata Ferry Koto dalam pernyataannya yang diunggah di media sosial, Sabtu (13/6/2026).

Ia menilai kekhawatiran sejumlah pihak terkait migrasi konsumen dari Pertamax ke Pertalite kini mulai terbukti di lapangan. Menurutnya, lonjakan perpindahan tersebut bukan hanya dipicu oleh kenaikan harga Pertamax sebesar Rp3.950 per liter, tetapi juga karena selisih harga yang kini mencapai Rp6.250 per liter dibandingkan Pertalite.

“Dengan selisih Pertamax RON92 dengan Pertalite sebesar 62,5 persen itu, bisa dipastikan kelompok masyarakat dari kelas menengah rentan akan memilih menghemat uangnya Rp6.250 per liter,” ujarnya.

Ferry menjelaskan, kelompok masyarakat menengah rentan atau aspiring middle class merupakan kelompok yang saat ini berada dalam posisi paling tertekan akibat situasi ekonomi. Mereka tidak tergolong miskin sehingga tidak menerima berbagai bantuan sosial pemerintah, tetapi juga belum memiliki kemampuan ekonomi yang kuat.

Menurutnya, penghematan penggunaan BBM menjadi pilihan rasional bagi kelompok tersebut, terutama bagi keluarga yang memiliki lebih dari satu kendaraan roda dua.

“Bayangkan jika sebulan mengisi 30 sampai 40 liter, besar sekali penghematannya. Dan jika bapak, ibu, anak juga pakai motor, makin besar yang bisa dihemat jika beralih ke Pertalite,” tuturnya.

Selain menyoroti persoalan BBM, Ferry juga mengkritik kebijakan terbaru terkait Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah) yang disebutnya semakin mempersempit akses kelompok menengah rentan terhadap bantuan pendidikan.

Ia menilai kebijakan yang membatasi penerima KIP Kuliah hanya untuk keluarga kategori miskin dan sangat miskin berpotensi semakin menekan kelompok masyarakat yang berada di lapisan tengah.

Dalam kesempatan itu, Ferry mengingatkan pemerintah agar tidak mengabaikan potensi dampak sosial apabila kelangkaan Pertalite semakin meluas di berbagai daerah.

“Pemerintahan Presiden Prabowo harus waspada atas situasi kelangkaan Pertalite ini. Jika meluas, dapat memicu gelombang protes rakyat,” katanya.

Menurut Ferry, dampak dari kelangkaan Pertalite tidak hanya akan dirasakan masyarakat miskin, tetapi juga kelompok kelas menengah rentan, aparatur sipil negara, hingga anggota TNI dan Polri yang memiliki pendapatan terbatas.

Lebih lanjut, ia mempertanyakan efektivitas kebijakan kenaikan harga Pertamax dalam mengurangi beban kompensasi energi pemerintah. Sebab, apabila perpindahan konsumen ke Pertalite terus meningkat, pemerintah justru berpotensi menanggung beban kompensasi yang lebih besar.

“Jadi, kebijakan menaikkan harga Pertamax RON92 justru akan menambah beban kompensasi pemerintah terhadap Pertalite,” ujarnya.

Sebagai alternatif, Ferry mengusulkan agar pemerintah mempertahankan harga Pertamax di level saat ini, namun memberikan diskon khusus bagi pengguna sepeda motor melalui skema yang didukung oleh Danantara maupun Pertamina.

“Harga Pertamax RON92 tetap naik di Rp16.250, tapi Danantara atau Pertamina memberikan diskon khusus untuk sepeda motor sebesar Rp3.950 per liter sehingga pengguna motor hanya membayar Rp12.300 per liter seperti harga sebelum kenaikan,” usulnya.

Ia berpendapat langkah tersebut dapat menjaga daya beli masyarakat sekaligus mengurangi potensi perpindahan massal pengguna Pertamax ke Pertalite yang berisiko memicu kelangkaan di lapangan.

“Semoga masalah ini segera diselesaikan sebelum pecah menjadi masalah yang tidak bisa kita tanggung dampaknya,” pungkas Ferry.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.