KOMA.ID, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih berada dalam tekanan menjelang pembukaan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (25/5/2026).
Berdasarkan pantauan pasar valuta asing pagi ini, nilai tukar 1 dolar AS tercatat berada di level Rp17.698,60. Angka tersebut menunjukkan rupiah masih bergerak di dekat level terlemahnya sepanjang tahun 2026.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya tekanan global akibat ketidakpastian geopolitik, tingginya harga minyak dunia, serta arus permintaan dolar AS yang masih tinggi di pasar internasional.
Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) telah mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen untuk menjaga stabilitas rupiah dan mengantisipasi risiko inflasi.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, sebelumnya menyebut tekanan terhadap rupiah dipicu tingginya kebutuhan dolar AS untuk pembayaran utang luar negeri, repatriasi dividen, hingga kebutuhan musim haji.
Selain faktor eksternal, pelaku pasar juga masih mencermati implementasi kebijakan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) yang mewajibkan eksportir menyimpan devisa di perbankan nasional. Kebijakan tersebut diyakini pemerintah dapat membantu memperkuat cadangan devisa dan menopang nilai tukar rupiah.
Meski demikian, tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia, masih cukup tinggi seiring penguatan dolar AS global dan ketegangan geopolitik internasional yang belum mereda.
Data historis menunjukkan nilai tukar USD terhadap rupiah sepanjang 2026 terus mengalami kenaikan dibanding awal tahun. Pada Januari 2026, kurs dolar AS masih berada di kisaran Rp16.675 per dolar AS, sementara kini telah mendekati level Rp17.700.
Pelaku pasar hari ini diperkirakan akan mencermati respons pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas pasar keuangan domestik, termasuk potensi intervensi lanjutan di pasar valuta asing dan obligasi negara.











