Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
EkonomiInternasionalNasional

Rupiah Berdarah-Darah, Dollar AS Nyaris Sentuh Rp18.000

Views
×

Rupiah Berdarah-Darah, Dollar AS Nyaris Sentuh Rp18.000

Sebarkan artikel ini
dollar rupiah
Dolar Amerika Serikat dan Rupiah Indonesia.

Koma.id, Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan dan mencatat level terendah sepanjang sejarah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Pelemahan ini terjadi di tengah menguatnya dollar AS yang didorong meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta ekspektasi kebijakan moneter AS yang masih ketat.

Berdasarkan data Reuters, rupiah pada pukul 09.00 WIB diperdagangkan di level Rp17.890 per dollar AS atau melemah 0,34 persen dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.830 per dollar AS. Tekanan berlanjut hingga pukul 10.45 WIB ketika mata uang Garuda menyentuh level Rp17.926 per dollar AS.

Silakan gulirkan ke bawah

Posisi tersebut menjadikan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia pada perdagangan hari itu.

Di pasar regional, pergerakan mata uang Asia relatif terbatas. Yen Jepang menguat tipis 0,04 persen ke level 159,82 per dollar AS, sementara dollar Singapura naik 0,02 persen. Sebaliknya, won Korea Selatan, baht Thailand, peso Filipina, ringgit Malaysia, dan yuan China mengalami pelemahan terhadap dollar AS.

Secara tahun berjalan atau year to date (YTD), rupiah menjadi salah satu mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia. Sejak awal 2026, rupiah telah terdepresiasi sekitar 6,82 persen dibandingkan posisi akhir 2025 yang berada di level Rp16.670 per dollar AS.

Sebagai perbandingan, won Korea Selatan melemah 5,23 persen, rupee India turun 5,66 persen, peso Filipina terkoreksi 4,66 persen, dan baht Thailand melemah 3,70 persen. Sementara itu, yuan China justru menguat 3,27 persen, ringgit Malaysia naik 2,09 persen, dan dollar Singapura menguat 0,51 persen sepanjang tahun ini.

Penguatan dollar AS dipicu meningkatnya permintaan aset safe haven akibat memanasnya konflik di Timur Tengah. Selain itu, pelaku pasar juga menilai peluang kenaikan suku bunga bank sentral AS, The Fed, masih terbuka setelah sejumlah data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan ketahanan yang lebih baik dari perkiraan.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pergerakan rupiah masih sangat dipengaruhi perkembangan konflik di Timur Tengah. Menurutnya, meski Lebanon telah mengumumkan gencatan senjata parsial antara Hizbullah dan Israel, pasar masih mencermati potensi meluasnya konflik yang melibatkan Iran.

“Iran disebut telah membatasi hampir seluruh pengiriman non-Iran menuju dan dari kawasan Teluk, sehingga mengganggu sekitar seperlima aliran minyak dan gas alam cair dunia,” ujarnya.

Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati kebijakan perdagangan terbaru Presiden AS Donald Trump yang mengubah tarif impor sejumlah komoditas seperti tembaga, aluminium, dan besi. Kebijakan tersebut dinilai dapat memperkuat industri domestik AS sekaligus memengaruhi dinamika perdagangan global.

Dari dalam negeri, sejumlah indikator ekonomi memberikan sinyal yang beragam. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Mei 2026 sebesar 0,28 persen secara bulanan, lebih tinggi dibandingkan inflasi April yang tercatat 0,13 persen.

Di sisi lain, sektor manufaktur menunjukkan perbaikan. Data S&P Global mencatat Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik ke level 50,0 pada Mei 2026 dari 49,1 pada April 2026. Selain itu, neraca perdagangan Indonesia juga masih mencatat surplus sebesar 5,64 miliar dollar AS selama periode Januari-April 2026, memperpanjang tren surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Meski demikian, kombinasi sentimen eksternal berupa konflik geopolitik, penguatan dollar AS, serta ketidakpastian kebijakan perdagangan global masih menjadi faktor utama yang membebani pergerakan rupiah.

Untuk perdagangan hari ini, Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif namun cenderung melemah di kisaran Rp17.840 hingga Rp17.900 per dollar AS seiring tingginya tekanan dari pasar global.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.