Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Ekonomi

Ferry Irwandi Rilis Analisis Ekonomi Indonesia 2026, Soroti Kerentanan Fiskal hingga Umumkan Hiatus S3

Views
×

Ferry Irwandi Rilis Analisis Ekonomi Indonesia 2026, Soroti Kerentanan Fiskal hingga Umumkan Hiatus S3

Sebarkan artikel ini
Ferry Irwandi
Influencer ekonomi dan politik, Ferry Irwandi.

KOMA.ID, JAKARTA — Kreator konten sekaligus CEO Malaka Project, Ferry Irwandi, meluncurkan sebuah riset komprehensif bertajuk “Analisis dan Solusi Ekonomi Indonesia 2026”. Melalui video DokuVlog terbarunya yang diunggah pada 22 Mei 2026, Ferry membagikan dokumen riset tersebut secara gratis kepada publik sebagai bentuk kontribusi sipil di tengah dinamika ekonomi nasional.

Ferry menegaskan bahwa analisis yang disusunnya selama dua bulan terakhir ini murni berbasis data makroekonomi tanpa ada tendensi politik untuk menyudutkan pihak mana pun. Namun bersamaan dengan rilisnya video krusial ini, ia juga mengumumkan rencana hiatus dari dunia YouTube untuk melanjutkan studi doktoral (S3).

Silakan gulirkan ke bawah

Kondisi Ekonomi Saat Ini: Aman tapi Rentan

Dalam pemaparannya, Ferry menjelaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia pada tahun 2026 berada dalam posisi yang dilematis. Pertumbuhan ekonomi di atas kertas memang terlihat tinggi, namun motor penggeraknya dinilai terlalu bertumpu pada pengeluaran negara, bukan sektor riil yang organik.

“Keadaan perekonomian Indonesia saat ini seperti apa sih sebenarnya? Jawabannya simpel dan gua kira kalian semua pasti akan mengerti gitu. Enggak sebagus apa yang dibanggakan sama pro ekstremnya, tapi enggak sehancur dan serusak yang disuarakan oleh kontra ekstremnya,” ujar Ferry Irwandi dalam videonya.

Ferry menambahkan bahwa situasi saat ini masih terkendali, tetapi tidak boleh membuat pemerintah lengang karena ada ancaman nyata jika salah mengambil kebijakan.

“Sederhananya yang bisa gua sampaikan kepada teman-teman semua adalah keadaan sekarang ini masih bisa dikatakan aman, tapi keadaan aman ini bisa berubah seketika kalau pemerintah kita mengambil langkah yang salah,” lanjutnya.

Soroti Defisit APBN dan Lonjakan Harga Minyak

Ferry menyoroti pembengkakan defisit APBN pada Kuartal I (Q1) tahun 2026 yang melonjak tajam hingga mencapai Rp240,1 triliun atau sekitar 36,8% dari batas defisit tahunan. Ketergantungan pertumbuhan pada belanja pemerintah dinilai membuat ruang fiskal Indonesia kian menyempit, terlebih dengan adanya tekanan eksternal seperti meroketnya harga minyak dunia hingga tembus 117 dolar AS per barel.

“Problem utamanya bukan ekonomi itu tidak tumbuh, melainkan pertumbuhannya itu makin mahal untuk dipertahankan,” tegas Ferry.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga fungsi APBN sebagai pelindung utama masyarakat saat krisis global melanda. “Kalau ruang fiskalnya sudah terkuras sejak awal tahun, kemampuan negara untuk merespon krisis ini jadi lebih sedikit dan lebih terbatas,” jelasnya.

Bukan Krisis 1998, Melainkan Stagnasi Struktural

Melemahnya nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh angka di atas Rp17.700 per dolar AS memicu kekhawatiran krisis di tengah masyarakat. Kendati demikian, Ferry menenangkan publik dengan memaparkan data bahwa fundamental perbankan dan cadangan devisa Indonesia saat ini jauh lebih kuat jika dibandingkan dengan krisis finansial tahun 1998.

“Indonesia pada tahun 2026 tidak sedang berada dalam situasi yang sama seperti 1998,” ucap Ferry memberikan kepastian.

Menurutnya, ancaman terbesar Indonesia saat ini bukanlah gagal bayar utang (default), melainkan jebakan pendapatan menengah. “Resiko utama Indonesia itu bukan default, teman-teman. Tapi resiko utamanya adalah stagnasi struktural. Kita bisa aja terus tumbuh 4 sampai 5% atau bahkan 6%, tapi gagal keluar dari middle income trap,” imbuhnya.

Solusi Tiga Lapis: Efisiensi Makan Bergizi Gratis hingga Reformasi Subsidi

Di dalam dokumen risetnya, Ferry menawarkan solusi tiga lapis—jangka pendek, menengah, dan panjang. Dua poin krusial yang ia bedah adalah optimalisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan perombakan skema subsidi energi.

Terkait program MBG, Ferry menilai pendekatannya harus diubah menggunakan Cost-Effective Analysis. Dengan memangkas coverage yang terlalu universal dan membenahi sistem pengadaan, anggaran negara dinilai bisa dihemat ratusan triliun tanpa menurunkan kualitas gizi anak.

Sementara untuk subsidi energi seperti LPG Melon, Ferry mendorong pemerintah untuk beralih dari subsidi harga barang (universal) menjadi bantuan langsung tunai tepat sasaran (targeted) berbasis data integrasi nasional (single identity number).

“Daripada negara subsidi harga LPG untuk seluruh populasi, lebih baik negara langsung aja transfer langsung ke masyarakat miskin,” kata Ferry menjelaskan efisiensi mekanisme Direct Benefit Transfer.

Umumkan Hiatus dari YouTube

Di penghujung video, Ferry menyampaikan kabar mengejutkan bagi para pengikut setianya. DokuVlog analisis ekonomi ini disebut akan menjadi karya terakhirnya sebelum memutuskan untuk rehat panjang dari aktivitas memproduksi konten video di YouTube.

“Ini mungkin jadi rekor DokuVlog terpanjang gua, karena setelah video ini mungkin DokuVlog bakal hiatus dulu. Karena gua harus ngejar pendidikan S3 gua, gua harus punya waktu lebih banyak untuk keluarga gua, dan gua harus ngejar mimpi gua untuk bikin perguruan tinggi,” pungkas Ferry.

Ferry menutup videonya dengan mengajak seluruh lapisan masyarakat, akademisi, hingga pemangku kebijakan untuk mengunduh laporan risetnya secara bebas, mendiskusikannya, demi menciptakan ruang publik yang sehat dan berbobot di Indonesia.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.