Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Ekonomi

IHSG Melemah 3,53% Usai Pengumuman MSCI dan Aksi Jual Asing

Views
×

IHSG Melemah 3,53% Usai Pengumuman MSCI dan Aksi Jual Asing

Sebarkan artikel ini
Img 20260515 Wa0010
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat IHSG mengalami pelemahan sepanjang perdagangan tiga hari terakhir pada periode 11-13 Mei 2026. (Foto: Koma.id / Andry Novelino)

Koma.id Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan sepanjang perdagangan tiga hari terakhir pada periode 11-13 Mei 2026. Tekanan terhadap pasar saham domestik terjadi seiring pengumuman hasil peninjauan indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI), aksi jual investor asing, hingga meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi pasar modal Indonesia.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG selama periode tersebut melemah 3,53 persen dan ditutup di level 6.723,320. Pada pekan sebelumnya, indeks masih berada di posisi 6.936,396.

Silakan gulirkan ke bawah

Kapitalisasi pasar BEI juga mengalami koreksi sebesar 4,68 persen menjadi Rp11.825 triliun dari sebelumnya Rp12.406 triliun. Selain itu, rata-rata frekuensi transaksi harian turun 0,56 persen menjadi 2,53 juta kali transaksi.

Penurunan juga terjadi pada rata-rata nilai transaksi harian yang terkoreksi 18,78 persen menjadi Rp18,82 triliun dari Rp23,05 triliun pada pekan sebelumnya. Sementara rata-rata volume transaksi harian turun 22,01 persen menjadi 35,76 miliar lembar saham.

Tekanan terhadap IHSG dipicu sentimen negatif dari hasil rebalancing indeks MSCI Mei 2026. Dalam pengumuman terbarunya, MSCI mengeluarkan sejumlah emiten besar Indonesia dari MSCI Global Standard Index dan MSCI Small Cap Index.

Enam saham yang dicoret dari MSCI Global Standard Index antara lain PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).

MSCI menyebut keputusan tersebut berkaitan dengan persoalan transparansi kepemilikan saham, konsentrasi pemegang saham, serta isu likuiditas pasar.

Pengumuman itu langsung memicu tekanan jual di pasar saham Indonesia. Pada perdagangan Rabu (13/5/2026), IHSG sempat anjlok hampir 2 persen dan menyentuh level terendah tahun ini.

Sejumlah analis menilai keputusan MSCI menimbulkan kekhawatiran terhadap arus dana asing keluar (capital outflow) dari pasar modal Indonesia. MSCI sebelumnya juga sempat memberi peringatan terkait kemungkinan penurunan status Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar frontier apabila persoalan transparansi dan free float tidak segera diperbaiki.

Phintraco Sekuritas dalam risetnya menyebut pelemahan IHSG dipengaruhi keluarnya sejumlah saham dari indeks MSCI yang memicu tekanan jual di pasar domestik.

Meski demikian, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI menegaskan kondisi pasar modal Indonesia masih terkendali. Regulator menyebut volatilitas yang terjadi belum menunjukkan adanya panic selling secara besar-besaran.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan keluarnya sejumlah saham dari indeks MSCI tidak selalu mencerminkan memburuknya fundamental perusahaan.

“Tidak seluruhnya mencerminkan penurunan fundamental atau kapitalisasi pasar perusahaan terkait,” ujar Hasan dalam keterangan pers, dikutip Jumat (15/5/2026).

Pemerintah dan otoritas pasar modal saat ini juga tengah mempercepat sejumlah reformasi untuk meningkatkan transparansi dan kualitas pasar saham domestik, termasuk peningkatan ketentuan free float dan keterbukaan struktur kepemilikan saham emiten.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.