Koma.id – Mantan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), memberikan klarifikasi atas polemik ceramahnya di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM) yang berujung pada pelaporan ke polisi.
JK menegaskan bahwa isi ceramahnya saat itu berfokus pada pesan perdamaian, khususnya dalam konteks konflik sosial dan keagamaan di Indonesia. Ia menyayangkan potongan video ceramahnya yang beredar di media sosial telah dipotong dari konteks utuh sehingga menimbulkan kesalahpahaman.
“Yang saya sampaikan itu tentang perdamaian, bukan hal lain. Tapi dipotong-potong sehingga maknanya berubah,” ujar JK, dikutip Senin (20/4/2026).
Heboh “Sale Indonesia” hingga “Buang Rupiah”, Haris Moti: Tidak Membangun Kedaulatan Bangsa
Sebelum menyampaikan klarifikasi, JK juga memutarkan dokumentasi konflik sektarian di Ambon dan Poso pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an. Ia menjelaskan bahwa contoh tersebut diangkat berdasarkan pengalaman langsungnya saat terlibat dalam proses mediasi konflik.
Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) itu mengatakan dirinya turun langsung ke lapangan untuk membantu meredakan konflik, sehingga memahami dinamika yang terjadi di masyarakat saat itu.
Dalam ceramahnya, JK juga menyinggung berbagai konflik lain di Indonesia, mulai dari konflik ideologi di Madiun, konflik wilayah di Timor, hingga konflik ekonomi di Aceh.
Ia menegaskan bahwa penggunaan istilah “syahid” dalam ceramahnya hanya sebagai contoh konsep yang berkembang di tengah masyarakat saat konflik berlangsung.
Menurut JK, pesan utama dari ceramah tersebut adalah peringatan agar agama tidak dijadikan alasan untuk melakukan kekerasan.
“Saya justru ingin menegaskan, jangan membunuh sesama anak bangsa dengan alasan agama. Itu tidak dibenarkan dalam ajaran apa pun,” tegasnya.
JK menilai tuduhan penistaan agama yang dialamatkan kepadanya tidak berdasar karena bertolak belakang dengan substansi ceramah yang justru mengedepankan nilai kemanusiaan dan perdamaian.













