Koma.id – Beda dengan agenda seremoni resmi pemerintah, massa buruh yang dimotori oleh Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) dan Partai Buruh memilih memusatkan aksi di depan Gedung DPR RI, Jakarta, pada 1 Mei 2026.
Ratusan ribu buruh dari berbagai daerah di Indonesia bersiap turun ke jalan pada 1 Mei mendatang untuk menyuarakan tuntutan mereka. Setelah itu, massa dijadwalkan bergerak menuju Istora Senayan dalam rangkaian acara May Day Fiesta.
Presiden KSPI sekaligus Presiden Partai Buruh, Said Iqbal, menegaskan bahwa May Day bukan sekadar perayaan simbolik, melainkan momentum untuk menagih komitmen pemerintah.
“Bagi buruh, 1 Mei adalah hari perjuangan. Ini bukan seremoni, tapi momentum untuk menagih janji,” tegasnya, dikutip Minggu (19/4/2026).
Iqbal menyebut hingga kini pemerintah masih memiliki “utang” enam janji yang disampaikan pada May Day 2025 namun belum terealisasi.
Sejumlah tuntutan utama yang kembali disuarakan antara lain pengesahan RUU Ketenagakerjaan yang berpihak pada buruh, penghapusan sistem outsourcing, serta reformasi kebijakan pajak terkait tunjangan hari raya (THR) dan bonus tahunan.
Di sisi lain, pemerintah diketahui mengundang perwakilan buruh untuk merayakan May Day bersama Presiden di kawasan Monas. Namun, Said Iqbal memberikan syarat tegas atas undangan tersebut.
Ia menyatakan hanya akan menghadiri agenda tersebut apabila ada pertemuan langsung dengan pemerintah untuk membahas secara konkret enam tuntutan yang selama ini belum ditindaklanjuti.
Menurutnya, tanpa adanya dialog substantif, kehadiran buruh dalam seremoni resmi hanya akan menjadi simbol tanpa makna bagi perjuangan kelas pekerja.
Aksi besar ini diperkirakan akan menjadi salah satu mobilisasi buruh terbesar dalam beberapa tahun terakhir, sekaligus menjadi indikator penting relasi antara pemerintah dan kelompok pekerja di tengah dinamika kebijakan ketenagakerjaan yang masih menuai polemik.













