Koma.id | Jakarta – Nilai tukar rupiah berbalik melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan. Berdasarkan data pasar spot, rupiah ditutup turun Rp 78 atau 0,46 persen ke level Rp 17.090 per dolar AS. Kurs Jisdor Bank Indonesia juga terkoreksi Rp 73 atau 0,43 persen ke posisi Rp 17.082 per dolar AS, Kamis (09/04).
Pelemahan rupiah terjadi di tengah harga minyak mentah yang masih tinggi serta ketidakpastian geopolitik akibat konflik Iran dengan AS dan Israel yang telah berlangsung enam pekan. Kondisi ini menambah kekhawatiran akan tekanan fiskal, terutama terkait subsidi energi. Meski demikian, Kementerian Keuangan menegaskan defisit anggaran tetap dijaga di bawah 3 persen dari produk domestik bruto.
Mayoritas mata uang Asia turut melemah terhadap dolar AS. Peso Filipina mencatat pelemahan terdalam 0,54 persen, disusul rupiah 0,46 persen. Yen Jepang turun 0,30 persen, rupee India 0,27 persen, ringgit Malaysia 0,26 persen, dan won Korea 0,25 persen. Sementara itu, baht Thailand menjadi satu-satunya mata uang Asia yang menguat tipis 0,03 persen.
Indeks dolar AS yang mencerminkan pergerakan terhadap mata uang utama dunia justru melemah 0,15 persen ke level 98,98, melanjutkan tren penurunan empat hari beruntun.
Mantan Menko Ekonomi era Orde Baru, Ginandjar Kartasasmita, dalam sebuah diskusi buku di Jakarta hari ini menekankan bahwa krisis moneter pada dasarnya adalah krisis kepercayaan. Ia mencontohkan pengalaman 1998, di mana pemulihan rupiah bergantung pada kembalinya keyakinan pasar terhadap pengelolaan ekonomi nasional.
Menurut analis, pergerakan rupiah ke depan masih akan dipengaruhi perkembangan konflik di Timur Tengah. Intervensi Bank Indonesia diperkirakan tetap dilakukan, meski terbatas karena cadangan devisa berada di level terendah sejak Juli 2024.








