KOMA.ID, JAKARTA – Ketua Umum YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia), Muhammad Isnur mengatakan bahwa kasus penyiraman air keras oknum oknum di BAIS (Badan Intelijen Strategis) terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus harus benar-benar diungkap secara jelas dan tuntas.
Karena menurutnya, kasus ini akan menjadi persoalan serius bagi institusi TNI yang lebih besar, karena akan berubah menjadi duri di dalam daging institusi militer di Indonesia tersebut.
“Dalam bahasa kami, ini tuh duri dalam daging. Dan selama duri ini menancap di tubuh daging, apa namanya BAIS dan TNI, akan terus terjadi peristiwa seperti ini,” kata Isnur dalam podcast Bocor Alus Politik TEMPO, Minggu (29/3/2026).
Ia khawatir jika garis komando hingga aktor lapangan tidak benar-benar diungkap dan diproses hukum dengan tegas, maka kasus-kasus seperti Andrie Yunus bisa saja terjadi di kemudian hari, dan dilakukan oleh institusi intelijen milik TNI itu.
“Harus dibuka semua, cabut durinya Bang. Cabut durinya dalam daging agar enggak ada lagi seperti ini. Bahasa ke depan agar ini cukup sampai hari ini, cukup di Andrie saja. Enggak ada lagi intimidasi kepada aktivis lainnya,” ujarnya.
Lebih lanjut, Isnur juga menyayangkan bahwa TNI menganggap bahwa NGO seperti KontraS dianggap sebagai ancaman dan hambatan / ATHG (Ancaman, Tantangan, Hambatan, dan Gangguan). Padahal baginya, peran NGO tersebut bisa menjadi mesin kontrol untuk perbaikan lembaga negara tersebut.
Sehingga ia berharap institusi negara seperti TNI bisa mengubah paradigma bahwa keberadaan NGO-NGO tersebut bisa ditangkap sebagai mitra kerja untuk perbaikan di kemudian hari.
“Karena kan soal definisi, Kontras dianggap sebagai ATHG pertanyaannya? Bukan sebagai partner untuk bekerja untuk demokrasi. Padahal Kontras berjasa betul buat kemajuan dan perubahan TNI di masa Reformasi,” ucap Isnur.













