Koma.id — Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkap sejumlah faktor yang memicu pelemahan tajam nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), yang sempat mendekati level Rp17.000 per dolar AS dalam beberapa waktu terakhir.
Menurut Perry, tekanan terhadap rupiah tidak hanya bersumber dari kondisi global, tetapi juga dipengaruhi faktor domestik, terutama persepsi pasar terhadap kondisi fiskal nasional serta proses pencalonan Deputi Gubernur BI yang tengah berlangsung.
“Tekanan nilai tukar ini berasal dari kombinasi faktor global dan domestik. Di dalam negeri, persepsi pasar terhadap fiskal dan dinamika pencalonan Deputi Gubernur BI turut memengaruhi sentimen,” kata Perry dalam keterangannya, Selasa (21/1).
Sentimen Pencalonan Deputi Gubernur BI
Perry menjelaskan, saat ini terdapat tiga nama calon Deputi Gubernur BI yang telah diusulkannya kepada Presiden. Salah satu nama yang mencuat adalah Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono, yang juga dikenal sebagai keponakan Presiden Prabowo Subianto serta kader Partai Gerindra.
Kondisi tersebut, kata Perry, memunculkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar terkait independensi bank sentral, meskipun proses pencalonan telah mengikuti aturan yang berlaku.
“Seluruh tahapan pencalonan Deputi Gubernur BI dilakukan sesuai dengan ketentuan undang-undang. Independensi Bank Indonesia tetap terjaga dan tidak akan terganggu oleh proses ini,” tegas Perry.
Tekanan Global dan Arus Modal Keluar
Selain faktor domestik, pelemahan rupiah juga dipicu oleh ketidakpastian pasar keuangan global, yang mendorong derasnya aliran modal asing keluar dari pasar keuangan Indonesia.
Perry mencatat, hingga 19 Januari 2026, total arus keluar modal asing (capital outflow) telah mencapai sekitar 1,6 miliar dolar AS. Kondisi ini sejalan dengan meningkatnya kehati-hatian investor global terhadap aset negara berkembang di tengah dinamika kebijakan moneter global dan geopolitik.
“Ketidakpastian global membuat investor cenderung menarik dananya dari emerging markets, termasuk Indonesia,” ujarnya.
Langkah Bank Indonesia
Meski menghadapi tekanan tersebut, Perry menegaskan BI akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui bauran kebijakan moneter, termasuk intervensi di pasar valas dan pengelolaan likuiditas.
Ia juga menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat, didukung oleh inflasi yang terkendali, pertumbuhan ekonomi yang solid, serta koordinasi erat antara BI dan pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi.











