Koma.id — Ketua Tim Transformasi Reformasi Polri, Komjen Pol. Prof. Dr. Chryshnanda Dwilaksana, menegaskan bahwa reformasi di tubuh Polri tidak bisa hanya dibebankan kepada anggota di lapangan. Ia menilai, perubahan sejati harus dimulai dari pucuk pimpinan yang menjadi teladan bagi seluruh jajaran.
Penegasan itu disampaikan Chryshnanda dalam seminar nasional bertajuk “Kemana Arah Reformasi Kepolisian Saat Ini?” yang digelar oleh Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia, di Kampus UI Salemba, Jakarta Pusat, Rabu (8/10).
“Kambing dipimpin singa itu mengaum, singa dipimpin kambing itu mengembek. Maka reformasi gerakan moral dimulai dari pemimpinnya,” kata Chryshnanda dalam paparannya.
Menurut Chryshnanda, reformasi Polri harus menyentuh seluruh lapisan institusi, bukan hanya pada tingkat bawah.
“Apakah yang direformasi ini Polri saja? Tentu saja tidak mungkin. Reformasi harus melibatkan semua pihak, termasuk masyarakat dan dunia akademik. Karena ini bagian dari keterbukaan,” ujarnya.
Ia yang juga menjabat Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Kalemdiklat) Polri menjelaskan, salah satu langkah konkret yang kini dilakukan adalah memperkuat pendidikan moral dan literasi di internal Polri. Langkah ini diharapkan membentuk personel yang berintegritas, humanis, dan profesional dalam melayani masyarakat.
Chryshnanda menegaskan bahwa institusi kepolisian harus mampu membangun kepercayaan publik. Kepemimpinan yang kuat, menurutnya adalah kunci utama untuk memastikan reformasi berjalan efektif dan berdampak nyata.
“Pemimpin yang baik akan menularkan nilai-nilai moral dan tanggung jawab kepada anggotanya. Ketika pimpinan berubah, kultur organisasi akan ikut berubah,” tandasnya.













