Koma.id– Efek dari kebijakan tarif tinggi yang kembali diusung mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mulai dirasakan keras oleh negara-negara Asia. Bukan hanya pasar saham yang limbung, tetapi nilai tukar mata uang regional pun ikut ambruk. Indonesia tak luput. Rupiah bahkan mencetak rekor terburuk sepanjang sejarahnya.
Pagi ini, Selasa (8/4), nilai tukar rupiah di pasar nondeliverable forward (NDF) menyentuh Rp 17.261 per dolar AS pada pukul 10.43 WIB. Sebuah angka yang belum pernah disentuh sebelumnya. Sebagai perbandingan, sebelum libur Lebaran, rupiah masih berada di level Rp 16.700/USD. Dalam hitungan hari, tekanan global yang dipicu kebijakan dagang Trump membuat pasar Indonesia bergetar.
Pakar ekonomi global dari Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menilai kondisi rupiah memang rentan menghadapi tekanan eksternal. Namun, ia menegaskan bahwa situasi ini jauh dari krisis seperti 1998.
Menanggapi kegentingan situasi ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto akan mengumumkan sikap resmi pemerintah Indonesia terhadap kebijakan tarif Trump. Dijadwalkan pada pukul 13.00 WIB, Presiden Prabowo akan menyampaikan pidato ekonomi yang merespons gejolak global dan langkah yang akan ditempuh Indonesia.
Sementara itu, Ketua Umum Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Jumhur Hidayat mengatakan bahwa kejadian ini bisa menjadi dorongan untuk menjadikan Indonesia yang berdikari dengan menjalankan sirkulasi ekonomi domestik yang semakin kokoh sehingga tidak terguncang keras bila terjadi gejolak pada pasar global.







