Gulir ke bawah!
Nasional

Dana Kampanye Ganjar-Mahfud Paling Besar Tapi Malah Keok, Ini Kata Pengamat

2096
×

Dana Kampanye Ganjar-Mahfud Paling Besar Tapi Malah Keok, Ini Kata Pengamat

Sebarkan artikel ini
Ganjar Mahfud
Ganjar Pranowo dan Mahfud MD di RSPAD Gatot Subroto.

Koma.id – Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah mengumumkan Laporan Penerimaan dan Pengeluaran Dana Kampanye (LPPDK) para capres-cawapres yang berkontestasi dalam Pilpres 2024.

Dalam laporan tersebut, pasangan capres-cawapres nomor urut 3, Ganjar Pranowo-Mahfud MD memiliki pengeluaran paling banyak dibanding dua paslon lainnya untuk berkampanye.

Silakan gulirkan ke bawah

Adapun total pengeluaran Ganjar-Mahfud mencapai Rp 506.892.847.566,66 (Rp 506,8 miliar).

Modal tersebut disusul pasangan capres-cawapres nomor urut 2, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka yang melaporkan dana kampanyenya sebesar Rp 207.576.558.270 (Rp 207,5 miliar).

Sedangkan pasangan capres-cawapres nomor urut 1, Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (AMIN) paling sedikit modal kampanyenya yaitu sebesar Rp 49.340.397.060 (Rp 49,3 miliar).

Kendati demikian, modal kampanye besar yang digelontorkan kubu Ganjar-Mahfud berbanding terbalik dengan perolehan suaranya dalam Pilpres 2024.

Berdasarkan hasil hitung secara manual atau real count sementara KPU pada Kamis (7/3/2024) per pukul 03.00 WIB, dikutip dari Kompas.com, Ganjar-Mahfud berada di peringkat buncit dengan raihan 21.374.318 suara atau 16,68 persen.

Mereka bahkan kalah dari AMIN yang menggelontorkan modal kampanye paling sedikit.

Adapun AMIN berada di peringkat kedua dengan raihan 31.374.817 suara atau 24,49 persen.

Baca juga: Total Dana Kampanye Capres-cawapres 2024: Ganjar-Mahfud Terbesar Rp506,8 Miliar, AMIN Paling Kecil

Raihan suara Ganjar-Mahfud pun terpaut jauh dari Prabowo-Gibran yang memimpin dengan raihan 75.359.057 suara atau 58,82 persen.

Tak sampai di situ, Ganjar-Mahfud juga tidak mampu unggul di satu wilayah pun dibanding dua paslon lainnya.

Bahkan, meski AMIN juga bisa dikatakan terpaut jauh dalam raihan suara dengan Prabowo-Gibran, mereka masih mampu unggul di dua provinsi yaitu Aceh dan Sumatera Barat.

Lantas, apa penyebab raihan suara Ganjar-Mahfud bisa jeblok meski menjadi paslon dengan dana kampanye terbesar dibanding lainnya?

Pengamat politik dari Universitas Al-Azhar, Ujang Komarudin menduga dana kampanye besar yang dimiliki Ganjar-Mahfud tidak turun sampai ke akar rumput atau rakyat dan justru dinikmati para elite tim sukses (timses) yaitu Tim Pemenangan Nasional (TPN).

“Uang yang besar, kalau penggunaannya tidak efektif, ya sulit. Kan bisa jadi anggaran besar, tahu-tahu muncul di tim sukses, tim suksesnya tidak turun ke bawah, tidak turun ke rakyat. Itu juga bohong.” kata dia.

“Dalam konteks itu, bisa jadi, anggaran yang besar itu, mungkin mohon maaf, dinikmati oleh elite-elitenya, petinggi-petinggi tim sukses,” ujarnya dilansir dari Tribunnews.

Padahal, Ujang menilai dana kampanye yang fantastis tersebut bisa memenangkan Ganjar-Mahfud dalam kontestasi Pilpres 2024.

“Sebenarnya dana kampanye yang besar itu bisa memenangkan kontestasi politik. Namun tergantung asas efektivitasnya, tergantung tepat sasaran atau tidak.”

“Jadi dana yang besar, tidak efektif, dan dananya tidak turun ke tim sukses di bawah dan masyarakat, itu menjadi persoalan,” jelasnya.

Direktur Eksekutif Centre for Indonesia Strategic Actions (CISA) Herry Mendrofa juga mengungkapkan faktor Ganjar-Mahfud memperoleh suara paling rendah.

Dia menyebut, lantaran ceruk elektoral Ganjar-Mahfud terbagi ke pasangan calon nomor urut 2 Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.

“Saya rasa soal ceruk elektoral yang mana ceruknya Ganjar-Mahfud terbagi lebih khususnya dengan Prabowo-Gibran artinya kekuatan mereka pun berkurang di sisi ini,” kata Herry, dilansir merdeka.com, Jumat (8/3).

Tak hanya itu, faktor kurang solidnya partai politik yang mengusung Ganjar-Mahfud di akar rumput menyebabkan suara Ganjar-Mahfud kalah.

“Belum lagi pengaruh pada suara parpol yang mendukung misalnya PDI Perjuangan yang turun ditambah belum solidnya pendukung atau akar rumput dari parpol pengusung seperti PPP, Perindo, dan Hanura,” jelas dia.

Faktor terakhir, kata Herry, yang menyebabkan suara Ganjar-Mahfud hanya 16 persen yakni tak ada narasi yang menegaskan arah pemerintahan kedepan.

Dia mencontohkan, dua pasangan calon lain yakni Prabowo-Gibran menggunakan narasi keberlanjutan. Sementara, paslon nomor urut 1, Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar membawa jargon perubahan.

“Selain itu pengaruh lainnya adalah Ganjar Mahfud hingga kampanye terakhir seolah tidak memiliki identitas politik yang jelas seperti Prabowo-Gibran yang mencitrakan sebagai keberlanjutan atau Anies-Cak Imin yang selalu menyuarakan perubahan. Artinya narasi yang dibangun butuh ketegasan dan ciri khas,” imbuh dia.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.