Koma.id – Pengamat politik Citra Institute Yusak Farchan menilai saat ini belum ada kepastian siapa capres dan cawapres yang akan diusung dalam gelaran Pilpres 2024 mendatang.
Tiga poros koalisi yang perlahan terbentuk saat ini dianggap belum pasti dalam mengusung pasangan calon presiden dan calon wakil presiden. Berdasarkan hasil survei terkini, kandidat yang menguat mengerucut hanya ada pada tiga nama.
“Ya yang pertama semua poros koalisi yang terbentuk hari ini kan memang belum ada yang pasti ya dalam pengertian siapa capresnya dan siapa cawapresnya. Ada 3 poros yang beredar untuk capreskan berdasarkan hasil survei kan selalu berporos di pak Ganjar kemudian Pak Prabowo dan pak Anies Baswedan,” kata Yusak kepada Koma.id, Senin (26/12/2022).
Prabowo Hadir di Paripurna DPR
Menurut Yusak, hanya saja partai politik penyokong koalisi hingga saat ini belum memutuskan kesepakatan politik dalam mengusung capres dan cawapres pada 2024. Ditegaskannya, yang sudah sepakat hanya Gerindra dan PKB.
“Hanya kan penyokong Parpol penyokong koalisi nah ini kan belum clear ya. Yang sudah berkoalisi ya tentu PKB dengan Gerindra tetapi kan belum menyepakati siapa capres dan cawapresnya, di poros lain juga demikian,” kata Yusak.
Duet Mega-Prabowo pecah kebuntuan politik?
Dalam analisisnya, Yusak belum melihat adanya peluang opsi duet gan Megawati dan Prabowo dalam helatan demokrasi 2024 untuk memecah kebuntuan politik yang saat ini terjadi. Menurutnya, konstelasi politik saat ini masih sangat dinamis.
“Nah kalau sekarang dimunculkan Bu Mega dan Pak Prabowo untuk memecah kebuntuan itu, saya kira perkembangan masih sangat dinamis ke depan. Hanya saja sebagaimana kebiasaan bu mega kan memang Menentukan capres cawapresnya kan di detik-detik terakhir dan saya tidak melihat ke arah sana,” kata Yusak.
Kendati demikian, Yusak meyakini pada saatnya PDI Perjuangan sebagai partai penguasa pada akhirnya akan menentukan sikap politiknya. Yusak juga meyakini bahwa figur Megawati sebagai penentu atau king maker dalam konstestasi 2024.
“Bahwa Bu Mega kemudian maju atau didorong untuk memecah kebuntuan politik pada saatnya PDIP sebagai partai akan menentukan sikap politik ya kan. Tetapi tentu Bu Mega akan lebih baik kalau kita letakkan sebagai king maker ya tentu tidak dalam posisi sebagai calon presiden. Dan paket Bu Mega Pak Prabowo kan sudah pernah dimajukan di Pemilu 2009 melawan Pak SBY dan Boediono bersama Pak JK dan Wiranto,” kata Yusak.
“Nah tentu kapasitas Ibu Mega dan Pak Prabowo sekali lagi dalam konteks dinamika capres dan cawapres yang berkembang saat ini, mereka sebetulnya menjadi bagian dari king maker. Makanya kita melihat sikap politik Pak Prabowo bagaimana sampai hari ini dan ke depan, karena tidak menutup kemungkinan kan juga Gerindra pada saatnya juga akan mengambil keputusan politik,” tegasnya.
“Ya sekali lagi saya tidak melihat munculnya bu mega dan Pak Prabowo ini dalam konteks untuk memecah kebuntuan politik. Nah sekarang kalau kita lihat bagaimana kebuntuan politik itu terjadi di poros Ganjar Pranowo kan itu karena PDIP memang belum memberikan dukungan partai politik,” tegasnya lagi.
Yusak melihat bahwa KIB yang saat ini tengah memberikan sinyal politik kepada Ganjar tidak kunjung memutuskan siapa capresnya. “Terlebih misalnya kita lihat Ketua Umum Partai Golkar yang bergabung di KIB juga kan punya kepentingan terhadap pencapresan sekalipun dihadapkan pada problem elektabilitas Pak Airlangga yang masih jauh di bawah Ganjar di bawah Pak Prabowo dan juga di bawah Anies Baswedan,” ungkap dia.
Menurut Yusak, probelm mengapa Ganjar Pranowo masih menemukan kebuntuan politik lantaran belum adanya dukungan dari partai politik yang pasti. Dia meyakini pada saatnya parpol akan menentukan sikap politiknya seiring dengan kenaikan elektablitasnya.
“Tapi saya kira kalau elektabilitas Ganjar terus naik, ya tentu partai-partai politik akan mengambil sikap politik. Makanya sering saya katakan 2 variabel penting dalam mengusung capres cawapres kan yang pertama sudah mutlak dukungan partai politik,” ujar Yusak.
Yang kedua, tegas Yusak setinggi apapun elektabilitas jika tidak ada dukungan partai politik tentu dipastikan tak akan bisa maju. Sebaliknya, punya dukungan parpol, tetapi elektabilitasnya rendah, hal ini berpotensi tidak akan menang. Tentu, kata dia, semua partai kan berkepentingan bagaimana memenangkan arena pertarungan politik di Pilpres 2024.
“Jadi saya kira Kalaupun bu mega dan Pak Prabowo didorong untuk memecah kebuntuan politik, kita mesti harus melihat atmosfer dan ekspektasi publik, ya yang lebih menghendaki adanya figur-figur yang fresh, figur-figur yang baru karena tradisi politik kita kan memang, ya pergantian Pak SBY ke Pak Jokowi kan juga salah satunya dipicu misalnya karena kerinduan masyarakat terhadap sosok yang menjadi bagian dari antitesisnya Pak SBY,” tegasnya.
“Artinya Pak SBY 10 tahun cukup lah kira -kira begitu kan, nanti rotasi kepemimpinan politik juga akan berjalan sesuai dengan tantangan dan kompleksitas yang ada di serta dinamika yang ada di masyarakat,” pungkasnya.













