Koma.id – Cendekiawan Muda Nahdlatul Ulama, Nur Ahmad Satria (NAS) mendesak Presiden Jokowi bersuara perintahkan Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa, mengusut tuntas kasus mutilasi warga sipil di Timika, Papua.
Kemudian melakukan reformasi internal di tubuh TNI khususnya di Papua. Pasalnya perbuatan oknum prajurit TNI melakukan mutilasi terhadap warga sipil sangatlah keji.
Bahkan, lanjut NAS, kasus ini seakan lebih sadis daripada pembunuhan berencana terhadap Brigadir J yang diotaki mantan Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo.
“Jokowi harus bersuara. Biar adil dan tidak hanya soal kasus Sambo tembak Brigadir J saja Jokowi bersuara. Tapi kasus mutilasi yang dilakukan oleh oknum prajurit TNI ini juga harus ditindak tegas. Ini lebih sadis dari Sambo,” kata NAS kepada Koma.id, Rabu (31/8/2022).
Menurut NAS, dampak perbuatan keji enam oknum prajurit TNI memutilasi warga sipil tersebut bisa fatal. Terutama bagi upaya negara menjaga eksistensi NKRI di tanah Papua.
Pasalnya, Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) bisa saja memanfaatkan kasus itu untuk memprovokasi rakyat melawan negara dengan cara yang tak diinginkan.
“Kasus mutilasi ini harus menjadi perhatian serius, sebab bisa timbul kemarahan karena negara dianggap semena-mena mebunuh rakyat sipil,” kata NAS.
Kronologi Oknum TNI Mutilasi Warga Sipil di Timika
Sebelumnya, empat warga Timika, Kabupaten Mimika, Papua, diduga menjadi korban mutilasi. Peristiwa sadis itu disinyalir melibatkan oknum prajurit TNI Angkatan Darat di Papua.
Dihimpun Koma.id dari berbagai sumber, ada empat warga sipil menjadi korban mutilasi, masing-masing bernama Arnold Lokbere, Irian Nirigi, Leman Nirigi dan seorang korban lain belum diketahui identitasnya.
Peristiwa pembunuhan sadis itu terjadi pada 22 Agustus sekitar pukul 21.50 WIT di kawasan SP 1, Distrik Mimika Baru.
Motif dan modus di balik penemuan jenazah korban mutilasi akhirnya terungkap setelah polisi melakukan penyelidikan.
Awalnya para pelaku berpura-pura ingin menjual senjata api dan empat orang korban tertarik dan mendatangi para pelaku sembari membawa uang Rp250 juta.
Lalu pelaku dan korban sepakat bertemu di Distrik Mimika Baru. Saat bertemu para pelaku langsung membunuh dan memutilasi korban. Setelah itu jenazah mereka dibuang ke Sungai Kampung Pigapu, Distrik Iwaka.
Setelah itu para pelaku menuju ke Jalan masuk Galian C Kali Iwaka dan membakar mobil Toyota Calya yang disewa oleh para korban.











