Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Politik

Mentan Diminta Fokus Kerja Saja, Jangan Bikin Gaduh di Ruang Publik

Views
×

Mentan Diminta Fokus Kerja Saja, Jangan Bikin Gaduh di Ruang Publik

Sebarkan artikel ini
Mentan Diminta Fokus Kerja Saja, Jangan Bikin Gaduh di Ruang Publik
Koordinator Nasional Barisan Puan Maharani, Achmad Sazali

Koma.id – Koordinator Nasional Barisan Puan Maharani, Achmad Sazali menyentil Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, lantaran dinilai telah membuat gaduh dengan mengandalkan intuisi dan prasangka.

Pasalnya, Yasin Limpo beberapa waktu lalu menyampaikan bahwa kemungkinan harga mi instan di pasaran bakal naik sampai tiga kalipat dalam waktu dekat.

Silakan gulirkan ke bawah

“Lebih baik mentan fokus saja bekerja dan berani membuat terobosan-terobosan yang cepat untuk menjaga ketenangan di masyarakat,” kata Achmad Sazali kepada Koma.id di Jakarta, Kamis (18/8/2022).

Tak hanya itu, lanjut Achmad Sazali yang juga Aktivis 98 itu, pernyataan Yasin Limpo yang sempat dibantah Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan sempat menimbulkan kegaduhan di ruang publik.

“Ironisnya polemik antar menteri ini seharusnya tidak terjadi karena pemerintah sudah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) 39 tahun 2019 tentang Satu Data Indonesia,” ucap Achmad Sazali.

Menurut Achmad Sazali polemik antar Menteri ini juga menunjukkan belum maksimalnya perpres tersebut untuk dapat menciptakan harmonisasi dan sinkronisasi data.

Sementara itu, kalaupun Indonesia mengalami gangguan impor gandum. Sumber-sumber bahan baku tepung pangan untuk substitusi terigu di Indonesia sebenarnya sangat banyak dan sudah dikenal masyarakat sebelum meluasnya pemakaian terigu di Indonesia. Seperti jagung, sorghum, kanjell, juwawut, sagu, sukun, singkong, dan ubi jalar.

Karena itu, menurut Achmad Sazali diperlukan kebijakan yang konsisten dan berjangka panjang untuk pengembangan bahan baku tepung subtitusi terigu dan dukungan terpadu antar kementerian dan lembaga, penyediaan teknologi dan dukungan masyarakat.

“Agar tidak seperti komoditas sorghum, walaupun secara teknis mempunyai sifat tepung yang baik untuk substitusi
terigu, tetapi kenyataannya tidak dapat berkembang walaupun sudah diprogramkan sejak tahun 1970-an,” tutup Aktivis Pusat Informasi Jaringan Aksi Reformasi (Pijar) tersebut.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.