Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Nasional

PWM Lampung Dukung Penuh Film Ageman, Prof Sudarman: Simbol Kedamaian dan Kerukunan

×

PWM Lampung Dukung Penuh Film Ageman, Prof Sudarman: Simbol Kedamaian dan Kerukunan

Sebarkan artikel ini
Img 20261001 Wa0030

Koma.id, Lampung – Dukungan terhadap keberadaan film edukasi kebangsaan bertajuk Ageman terus mengalir deras.

Kali ini, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Provinsi Lampung menyatakan dukungan penuh atas hadirnya karya sinematik yang mengusung pesan moderasi, toleransi, dan kerukunan antarumat beragama tersebut.

Silakan gulirkan ke bawah

Karya visual yang lahir dari inspirasi dan gagasan putra-putri terbaik serta tokoh masyarakat di Lampung ini dinilai sangat krusial dalam memperkokoh tali persaudaraan di tengah dinamika masyarakat Indonesia yang heterogen.

Ketua PWM Provinsi Lampung, Prof. Dr. H. Sudarman, M.Ag., menyambut hangat peluncuran film yang digagas para sineas dan tokoh lokal Bumi Ruwa Jurai ini sebagai sarana dakwah kebangsaan yang sejuk.

Prof. Sudarman menjelaskan, kata Ageman yang diserap dari khazanah budaya Nusantara sejatinya bermakna pakaian atau pegangan hidup. Filosofi mendalam tersebut merefleksikan bahwa keberagaman suku, ras, budaya, dan agama adalah anugerah sekaligus amanah untuk saling melengkapi.

“Ageman itu artinya pakaian sesuatu yang melekat dalam kehidupan kita sehari-hari. Yakni pakaian masyarakat Indonesia yang senang dengan kedamaian, menyukai kerukunan, serta mampu hidup berdampingan secara harmonis di dalam perbedaan,” ujar Prof. Sudarman, Kamis (1/10/2026).

Lebih lanjut, Prof. Sudarman menggarisbawahi bahwa benih-benih intoleransi serta paham ekstremisme kerap kali muncul akibat minimnya ruang dialog dan pemahaman yang kurang utuh terhadap perbedaan.

Oleh sebab itu, hadirnya film Ageman diharapkan bisa menjadi media pencerahan sekaligus benteng moral agar masyarakat khususnya generasi muda terhindar dari paparan radikalisme.

Sebagai wujud pilar dukungan nyata, PW Muhammadiyah Lampung mendorong seluruh jaringan lembaga pendidikan, mulai dari sekolah, perguruan tinggi, hingga pondok pesantren di lingkungan Muhammadiyah untuk menjadikan film Ageman sebagai materi refleksi dan edukasi kebangsaan.

Metode nonton bareng (nobar) yang dilanjutkan dengan ruang diskusi interaktif dianggap sebagai cara efektif agar pelajar dan mahasiswa dapat menyerap serta membedah pentingnya merawat harmoni sosial.

Di akhir penyampaiannya, Prof. Sudarman mengajak seluruh elemen masyarakat luas untuk menyaksikan film ini.

“Jadikan nilai-nilai toleransi sebagai pegangan hidup sehari-hari demi mewujudkan kehidupan berbangsa yang damai, inklusif, dan berkemajuan,” pungkas Prof. Sudarman.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.