Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Nasional

BIMA Dukung Penuh Doktrin Kapolri Baru: Polisi Harus Dekat dengan Rakyat, Bukan Menjaga Jarak

×

BIMA Dukung Penuh Doktrin Kapolri Baru: Polisi Harus Dekat dengan Rakyat, Bukan Menjaga Jarak

Sebarkan artikel ini
Kapolri Suyudi Ario Seto 1790847557098 169

Koma.id, JAKARTA — Ketua Barisan Insan Muda (BIMA), H. Syarief Hidayatulloh, menyatakan dukungan penuh terhadap doktrin “Polisi Bersama Masyarakat” yang diusung Jenderal Suyudi Ario Seto sebagai arah kepemimpinan dan transformasi Polri.

Menurut Syarief, gagasan tersebut merupakan pesan penting bahwa wajah kepolisian harus semakin dekat dengan kehidupan masyarakat. Ia menilai keberadaan polisi tidak semata-mata dibutuhkan ketika terjadi gangguan keamanan atau persoalan hukum, tetapi juga harus hadir sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat.

Silakan gulirkan ke bawah

“Kami mendukung penuh doktrin Polisi Bersama Masyarakat yang dibawa Jenderal Suyudi Ario Seto. Ini adalah semangat yang sangat dekat dengan kebutuhan rakyat. Polisi harus hadir bersama masyarakat, mendengar masyarakat dan bekerja untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat,” ujar Syarief.

Dalam uji kelayakan dan kepatutan di Komisi III DPR RI pada 1 Oktober 2026, Suyudi memang menempatkan masyarakat sebagai pusat orientasi tugas kepolisian melalui doktrin “Polisi Bersama Masyarakat”. Ia juga menyampaikan bahwa transformasi Polri harus melanjutkan kebijakan yang sudah baik sekaligus melakukan koreksi terhadap hal-hal yang belum optimal.

Syarief menilai konsep tersebut harus diterjemahkan hingga tingkat paling bawah, terutama di Polres dan Polsek.

Menurutnya, masyarakat akan menilai Polri bukan hanya dari kebijakan yang dibuat di tingkat pusat, tetapi dari pengalaman langsung ketika berhadapan dengan polisi di lapangan.

“Polisi yang dekat dengan rakyat itu bukan sekadar slogan. Ukurannya sederhana. Ketika warga membutuhkan pertolongan, polisi hadir. Ketika warga melapor, didengar. Ketika masyarakat membutuhkan pelayanan, dipermudah. Ketika ada persoalan hukum, ditangani secara profesional,” tegasnya.

Polisi Harus Hadir, Bukan Berjarak

Syarief mengatakan, tantangan Polri ke depan bukan hanya menjaga keamanan, tetapi juga membangun dan mempertahankan kepercayaan publik.

Ia mengapresiasi gagasan Suyudi yang menekankan bahwa kekuatan Polri harus dibangun melalui kepercayaan masyarakat. Suyudi sendiri menyampaikan bahwa Polri yang kuat bukan karena ditakuti, melainkan karena dipercaya.

“Ini pesan yang sangat kuat. Polisi tidak perlu ditakuti untuk menjadi kuat. Polisi akan semakin kuat ketika rakyat percaya, ketika masyarakat merasa dilindungi dan ketika kehadiran polisi benar-benar memberikan solusi,” kata Syarief.

Bagi BIMA, kedekatan polisi dengan masyarakat juga dapat memperkuat upaya pencegahan berbagai persoalan keamanan. Polisi yang memahami kondisi sosial masyarakat dinilai akan lebih cepat membaca potensi gangguan keamanan dan mengambil langkah sebelum persoalan berkembang.

Enam Agenda Transformasi Dinilai Sejalan

Syarief juga mengapresiasi enam agenda prioritas transformasi yang dipaparkan Suyudi, yakni penguatan kelembagaan, pembinaan SDM dan rekrutmen, penguatan pelayanan publik, penegakan hukum, pengawasan, serta akuntabilitas anggaran.

Ia secara khusus menyoroti gagasan penguatan Polsek agar semakin tangguh dan dekat dengan masyarakat serta perubahan orientasi pelayanan publik agar lebih mudah diakses, cepat, transparan, terukur dan inklusif.

“Kalau enam agenda ini benar-benar diterjemahkan sampai ke bawah, masyarakat akan merasakan perubahan secara langsung. Karena itu, kami melihat ada semangat untuk membuat Polri semakin responsif terhadap kebutuhan rakyat,” ujarnya.

Syarief juga mengapresiasi komitmen Suyudi mengenai meritokrasi dan integritas dalam pembinaan SDM Polri. Dalam paparannya, Suyudi menegaskan tidak boleh ada ruang bagi titipan, transaksi maupun sponsorship dalam proses pembinaan karier anggota.

Menurut Syarief, pembenahan internal merupakan bagian penting agar pelayanan eksternal kepada masyarakat semakin profesional.

“Polisi yang profesional harus dibangun dari sistem yang profesional. Rekrutmen harus bersih, karier harus berbasis prestasi dan integritas harus menjadi fondasi. Kalau internalnya sehat, pelayanan kepada masyarakat juga akan semakin kuat,” katanya.

BIMA Siap Kawal Secara Konstruktif

Syarief menegaskan dukungan BIMA terhadap kepemimpinan Suyudi bukan berarti menghilangkan fungsi kontrol masyarakat.

Sebaliknya, ia mengatakan masyarakat dan organisasi kepemudaan memiliki tanggung jawab untuk ikut mengawal implementasi program Polri agar benar-benar memberikan manfaat.

“Kami mendukung program yang baik dan siap mengawal secara konstruktif. Dukungan masyarakat harus berjalan bersama pengawasan. Kalau ada kebijakan yang baik kita apresiasi, kalau ada kekurangan kita beri masukan. Tujuannya satu, agar Polri semakin dekat dan semakin dipercaya rakyat,” tuturnya.

Ia berharap momentum kepemimpinan baru dapat menjadi energi bagi Polri untuk memperkuat hubungan dengan seluruh lapisan masyarakat.

“Pesan kami sederhana: dekatilah rakyat. Dengarkan rakyat. Layani rakyat. Lindungi rakyat. Karena pada akhirnya, Polri adalah bagian dari rakyat dan bekerja untuk kepentingan masyarakat serta negara,” pungkas H. Syarief Hidayatulloh.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.