Lampung – Dukungan terhadap film sinema edukatif Ageman terus mengalir dari berbagai elemen masyarakat di Provinsi Lampung.
Kali ini, tanggapan hangat dan kesaksian emosional datang dari seorang mantan narapidana terorisme (eks napiter) asal Lampung, Nasarudin
Kapolri Tekankan Sinergi Ulama dan Umara Sebagai Kekuatan Utama Jaga Persatuan dan Bangun NKRI
Nasarudin, yang merupakan lulusan Sarjana Teknik Universitas Muhammadiyah Metro dan kini telah memilih jalan moderat, menilai film Ageman karya pemuda Lampung tersebut menjadi cermin nyata atas perjalanan kelam masa lalunya saat terjebak dalam paham fanatisme agama yang ekstrem.
Film ini adalah cermin diri saya dulu saat fanatik buta terhadap agama. Jangankan yang beda agama, yang sama-sama Islam saja dulu dikafirkan semua bila tidak satu jamaah,” ungkap Nasarudin, Sabtu (26/9/2026).
Nasarudin membeberkan, masa lalunya diwarnai pemikiran tertutup hingga memandang dunia secara kaku antara hitam dan putih.
Ia sempat dua kali masuk bui akibat keterlibatannya dalam jaringan radikal
Pengalaman pertamanya dipenjara selama 3 tahun terjadi saat ia aktif di kelompok Negara Islam Indonesia (NII).
Karena terdesak kebutuhan infak organisasi, ia dan kelompoknya nekat merencanakan aksi pembegalan sepeda motor di Lampung Tengah, yang berujung pada main hakim sendiri oleh massa hingga menewaskan rekannya.
Usai bebas dari kasus NII, bukannya insyaf, ia justru terjerat lebih dalam dengan bergabung ke jaringan Jamaah Islamiyah (JI) yang dinilainya lebih terstruktur dan ekstrem.
Kiprahnya di JI berakhir setelah ditangkap aparat penegak hukum dengan sangkaan tindak pidana terorisme.
Kini, setelah menyelesaikan masa hukumannya dan mendedikasikan diri sebagai tenaga pengajar di salah satu pondok pesantren di Lampung Selatan, Nasarudin memandang film Ageman memiliki kekuatan narasi visual yang mampu meruntuhkan benteng pertahanan ego dan fanatisme seseorang tanpa merasa digurui. “Nasihat verbal sering kali membentur dinding ego.
Sebaliknya, sebuah cerita film meruntuhkan dinding tersebut karena penonton merasa sedang melihat kisah orang lain, sebelum akhirnya sadar bahwa kisah itu adalah tentang diri mereka sendiri,” tegasnya.
Sutradara Film Ageman, Jasper Lance, memaparkan bahwa alur cerita film ini diangkat dari kisah nyata perjalanan hidup Ken Setiawan eks aktivis radikal yang telah insyaf dan kini aktif sebagai Kabid Pemuda dan Pendidikan FKPT Lampung guna mengampanyekan pencegahan intoleransi dan terorisme.
Sementara itu, Produser Eksekutif Film Ageman sekaligus Ketua FKPT Provinsi Lampung, Dr. M. Firsada, menegaskan bahwa nilai-nilai inklusif yang diusung dalam film ini diharapkan mampu menjadi benteng moral bagi seluruh elemen masyarakat Indonesia.
Film ini sangat layak ditonton oleh masyarakat luas agar kita semakin menyadari pentingnya menjaga kerukunan dan saling menghargai di tengah perbedaan, tanpa ada lagi celah bagi potensi intoleransi maupun radikalisme,” pungkas Firsada.














