Koma.id, Lampung – Dukungan terhadap karya sineas lokal Lampung bertajuk Film Ageman terus mengalir deras.
Persatuan Guru Ngaji Lampung di bawah kepemimpinan Ustadz Mas Amiruddin secara tegas menyatakan kesiapannya untuk mensosialisasikan film bertema moderasi beragama tersebut ke lingkungan pesantren dan madrasah di seluruh wilayah Lampung.
Menko PMK: Wajib Halal Mulai Oktober 2026 untuk Lindungi Masyarakat dan Perkuat Kepercayaan
Film Ageman sendiri dirancang sebagai media edukasi visual mengenai pentingnya toleransi dan keberagamaan di Indonesia yang dijadwalkan tayang perdana pada 1 Oktober 2026 mendatang.
Kepala BNPT Apresiasi Film “Ageman”, Kisah Eks Radikalis Ken Setiawan Jadi Pesan Toleransi
Diangkat dari kisah nyata perjalanan hidup Ken Setiawan mantan aktivis radikal yang kini mendedikasikan dirinya untuk mengampanyekan pencegahan intoleransi, radikalisme, dan terorisme film ini dinilai membawa pesan yang sangat krusial bagi generasi muda.
Ketua Persatuan Guru Ngaji Lampung, Ustadz Mas Amiruddin, menilai hadirnya Film Ageman sangat relevan dengan dinamika sosial saat ini, terutama di tengah ancaman isu perundungan (bullying), hoaks, serta maraknya benih radikalisme.
Apalagi, kata Amiruddin, riset berbagai lembaga independen pemantau hak asasi seperti SETARA Institute dan Amnesty International menunjukkan tren intoleransi di tingkat akar rumput, mulai dari penolakan rumah ibadah hingga persekusi minoritas, masih menjadi tantangan nyata yang mengkhawatirkan.
“Sentimen mayoritarianisme di tingkat warga dan lemahnya pemahaman keagamaan yang inklusif menjadi salah satu pemicunya.
Karena itu, setelah resmi rilis, Film Ageman ini sangat layak ditonton oleh masyarakat luas, khususnya di Lampung, agar kita semakin menyadari pentingnya merawat kerukunan,” ujar Amiruddin.
Ia menambahkan, filosofi nama Ageman yang diserap dari bahasa Jawa, Sunda, dan Bali bermakna pakaian, pedoman, atau keyakinan membawa pesan luhur bahwa identitas lahiriah melekat untuk saling mengenal dan melengkapi, bukan memicu kebencian.
Melalui sosialisasi intensif ke pesantren dan lembaga pendidikan madrasah, Persatuan Guru Ngaji Lampung berharap nilai-nilai moderasi dalam film ini dapat membentengi para santri dan pelajar dari bahaya paham ekstrem.
“Harapan kita bersama, Indonesia, khususnya Lampung, tetap damai dan kondusif tanpa ada lagi celah bagi potensi intoleransi maupun radikalisme,” tegas Amiruddin.














