Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Politik

Prabowo Buka Peluang Reshuffle, Pengamat: Menteri Harus Bisa Cetak Gol

×

Prabowo Buka Peluang Reshuffle, Pengamat: Menteri Harus Bisa Cetak Gol

Sebarkan artikel ini
Prabowo Subianto Di Cikarang Koma
Presiden Prabowo Subianto saat Peluncuran Motor Listrik Nasional di Cikarang, Jawa Barat, Kamis 13 Agustus 2026.

KOMA.ID, JAKARTA — Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Aljabar Strategic, Arifki Chaniago merespons sikap Presiden Prabowo Subianto yang membuka peluang melakukan perombakan kabinet menjelang dua tahun pemerintahannya. Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo dalam wawancara program Prabowo Menjawab, Rabu (16/9/2026).

Arifki menilai, kode tersebut menunjukkan bahwa Presiden mulai menyiapkan formasi baru untuk memasuki babak kedua pemerintahannya.

Silakan gulirkan ke bawah

“Menurut saya, ini bukan sekadar soal mengganti menteri. Prabowo sedang menyiapkan formasi untuk babak kedua. Setelah dua tahun pertama membangun tim, sekarang tantangannya adalah bagaimana tim ini bekerja lebih cepat dan menghasilkan lebih banyak,” kata Arifki, Jum’at (18/9/2026).

Menurut Arifki, pernyataan Prabowo yang menganalogikan kabinet seperti kesebelasan sepak bola menjadi menarik. Dalam sebuah pertandingan, pergantian pemain tidak selalu berarti pemain sebelumnya gagal. Pergantian bisa dilakukan karena strategi dan kebutuhan tim berubah.

“Kalau kabinet adalah kesebelasan, maka Presiden bukan hanya memilih pemain, tetapi juga menentukan formasi. Ketika pertandingan memasuki babak kedua, bisa saja strategi berubah dan pemain yang diturunkan juga berubah,” ujarnya.

Arifki mengatakan, memasuki tahun ketiga pemerintahan, ukuran keberhasilan menteri akan semakin mudah dilihat dari hasil kerja.

“Dua tahun pertama adalah masa untuk membangun dan menguji tim. Setelah ini, tidak cukup hanya bisa bermain. Menteri harus bisa mencetak gol. Artinya, program harus berjalan, masalah harus diselesaikan, dan hasilnya harus dirasakan masyarakat,” katanya.

Ia menilai, jika reshuffle benar-benar dilakukan, publik sebaiknya tidak hanya sibuk menebak siapa yang keluar dan siapa yang masuk.

“Jangan terjebak pada teka-teki nama. Lihat strateginya. Siapa yang masuk harus menjawab kebutuhan apa yang ingin diselesaikan Presiden,” ujar Arifki.

Menurutnya, reshuffle juga dapat menjadi momentum bagi Prabowo untuk mempercepat program-program prioritas pemerintah memasuki paruh kedua masa pemerintahannya.

“Yang akan menentukan makna reshuffle bukan banyaknya menteri yang diganti, tetapi seberapa cepat pemerintahan bergerak setelahnya. Kalau pergantian pemain membuat permainan lebih cepat dan lebih efektif, berarti reshuffle punya tujuan yang jelas,” katanya.

Arifki menambahkan, pernyataan Prabowo juga menunjukkan bahwa posisi menteri bukanlah posisi yang bersifat permanen.

“Kursi menteri itu bukan kursi nyaman, tapi kursi kerja. Ketika Presiden merasa membutuhkan pemain baru, itu bagian dari kewenangan Presiden untuk memastikan pemerintahannya berjalan sesuai target,” pungkasnya.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.