Koma.id, Rabu (18/10) Polda Metro Jaya menggelar Simulasi Pengamanan Pemilihan Umum (Pemilu). Simulasi Sispamkota Operasi Mantap Brata ini bertujuan untuk mengantisipasi gangguan dan menjaga keamanan selama pemilu.
Simulasi ini digelar di lapangan Presisi Polda Metro Jaya. Turut hadir di lokasi Kapolda Metro Jaya Irjen Karyoto, Wakapolda Brigjen Suyudi Ario Seto, Dirkrimum Kombes Hengki Haryadi, Dirlantas Kombes Latif Usman, Dirkrimsus Kombes Ade Safri Simanjuntak, hingga Kabid Humas Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko (dikutip dari Detik.com)
Simulasi dimulai dengan dilakukannya rangkaian pengamanan kampanye hingga pelaksanaan pemungutan suara. Simulasi dilakukan oleh beberapa satuan, mulai personel satuan lalu lintas hingga resmob.
Korupsi MBG Masuk Babak Baru Dadan Hindayana Segera Disidang, Kolonel Budi Utomo Jadi Tersangka
Dalam simulasi tersebut juga diskenariokan terjadi kericuhan massa di tempat pemungutan suara (TPS). Kericuhan terjadi lantaran simpatisan tidak menerima hasil pemungutan suara. Massa kemudian melakukan aksi mendorong petugas yang tengah berjaga dan mencoba merangsek masuk ke kantor KPU. Mereka juga terlihat melemparkan beberapa barang.
Pihak kepolisian yang melakukan pengamanan mencoba menahan massa untuk masuk ke kantor KPU. Kericuhan berlanjut dengan aksi massa yang membakar spanduk dan material lainnya. Kemudian memberikan arahan untuk tidak membuat pelanggaran hukum yang nantinya akan ditindak secara tegas.
“Kami mengimbau untuk tidak melakukan perbuatan yang mengarah para pelanggaran hukum. Kami akan melakukan tindakan tegas,” kata protokoler melalui pengeras suara.
Alih-alih mendengarkan, massa malah makin anarkis dan memaksa masuk ke kantor KPU. Karena hal tersebut Pihak kepolisian pun terpaksa menurunkan mobil water cannon dan menyiagakan kendaraan Barracuda.
Setelah menurunkan mobil water cannon terlihat beberapa tembakan gas air mata terpaksa dilepaskan untuk melerai kericuhan. Pihak kepolisian kemudian mengamankan provokator yang menjadi pemicu terjadinya kericuhan.
Selain itu, Dalam simulasi juga diperlihatkan ancaman penghadangan capres cawapres hingga aksi terorisme. Aksi tembak-menembak terjadi di lokasi saat terjadi aksi terorisme. Namun pihak kepolisian melalui unit penjinak bom bisa mengatasi hal tersebut.








