Koma.id – Di tengah era perkembangan Informasi makin tidak terikat ruang dan waktu, keterasingan terhadap nilai kemanusiaan semakin meningkat. Kebenaran menjadi subjektif, bahkan tak jarang terjadi kebohongan yang berulang akhirnya dipercaya menjadi suatu kebenaran.
Sehingga tidak lagi melihat lagi substansi dan berupaya mengkotak-kotakan masyarakat hanya karena berbeda pandangan politik. Akibatnya muncullah politik identitas dan kedaerahan yang berujung pada perpecahan dalam kehidupan.
Sinergi TNI-Polri: Bersama Panglima TNI, Kapolri Terima Kehormatan sebagai Warga Korpasgat TNI AU
Namun, Pancasila menjadi roh dan jiwa jatidiri Bangsa Indonesia dapat menjadi jawaban atas konflik yang terjadi. Bisa mematahkan politik identitas. Sebab menjadi jawaban bahwa perbedaan itu bukan untuk dipertajam tapi dinikmati.
DPR Kebut Pembahasan RUU Perampasan Aset
Pancasila telah membuktikan itu, terlihat dari selama bangsa ini berdiri di tengah keberagaman namun semua berjalan beriringan.
“Masyarakat sejak dini harus membiasakan diri untuk tidak saja mentoleransi tapi juga merayakan perbedaan itu sebagai kekayaan berbangsa dan bernegara,” kata Staff Khusus Dewan Pengarah BPIP Antonius Benny Susetyo, dalam seminar bertema “Pancasila dan Keberagaman”, Rabu (29/6/2022).
YLBHI Kritik Usulan Luhut Ubah Definisi Korupsi, Ingatkan Pentingnya Unsur Kerugian Negara
Pada kesempatan yang sama, pakar kriminologi Adrianus Meliala mengatakan kesenjangan di tengah masyarakat merupakan tantangan sesungguhnya bagi Pancasila. Pasalnya, peran sebuah ideologi bangsa adalah ideal bagi kehidupan nyata masyarakat.
Sebab, mayoritas persoalan yang dihadapi masyarakat di setiap negara adalah kesenjangan. Jadi sebuah ideologi tampak gagal jika hanya berhenti di tataran konsep dan teori.
“Ideologi yang berhasil dan hidup adalah ideologi yang bisa menjawab permasalah permasalahan bangsa dan sebaliknya akan memudar dan tenggelam ketika tidak dapat menjadi solusi bagi masyarakat,” ucapnya.














