Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Ekonomi

Nilai Tukar Rupiah Melemah 50 Poin di Level Rp17.775

×

Nilai Tukar Rupiah Melemah 50 Poin di Level Rp17.775

Sebarkan artikel ini
dollar rupiah
Dolar Amerika Serikat dan Rupiah Indonesia.

Koma.id Pada pembukaan perdagangan Kamis (27/8/2026), rupiah berada di level Rp17.775 per dolar AS, melemah 50 poin atau sekitar 0,28 persen dibandingkan posisi penutupan Rabu di Rp17.725 per dolar AS. Pelemahan ini juga diikuti IHSG yang dibuka turun ke posisi 6.390,35.

Pelemahan pada pembukaan ini juga terjadi setelah sehari sebelumnya rupiah hanya turun tipis 2 poin atau 0,01 persen dari Rp17.723 menjadi Rp17.725 per dolar AS.

Silakan gulirkan ke bawah

Menurut Ibrahim Assuabi, analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka, salah satu faktor yang membuat pelaku pasar berhati-hati adalah penantian terhadap pidato Ketua Bank Sentral AS (The Fed) Kevin Warsh dalam Simposium Jackson Hole.

Pidato tersebut dinilai penting karena investor ingin mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter AS selanjutnya.

Perhatian terhadap pidato Warsh terutama berkaitan dengan dilema The Fed dalam menyeimbangkan tekanan inflasi dan kondisi perekonomian AS.

Apabila The Fed menunjukkan sikap lebih hawkish, yaitu cenderung mempertahankan kebijakan moneter ketat untuk waktu lebih lama demi mengendalikan inflasi, dolar AS berpotensi mendapatkan dukungan. Investor dapat meningkatkan kepemilikan aset berdenominasi dolar karena imbal hasilnya dianggap lebih menarik.

Sebaliknya, apabila pidato tersebut memberikan sinyal bahwa The Fed lebih terbuka untuk melonggarkan kebijakan atau menurunkan suku bunga, tekanan terhadap dolar dapat berkurang dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, berpeluang mendapatkan ruang untuk menguat.

Selain pidato The Fed, pasar juga mengalihkan perhatian kepada data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat. PCE merupakan salah satu indikator penting yang digunakan untuk melihat perkembangan inflasi berdasarkan perubahan pengeluaran konsumsi masyarakat.

IHSG Melemah ke Level 6.390,35 Pagi Ini
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Kamis pagi, 27 Agustus 2026, menunjukkan tekanan jual masih berlanjut setelah indeks pada perdagangan sehari sebelumnya mengalami penurunan cukup tajam.

IHSG dibuka melemah 15,34 poin atau 0,24 persen ke level 6.390,35, sedangkan indeks saham unggulan LQ45 turun 2,47 poin atau 0,39 persen ke level 630,08. Pelemahan pembukaan ini terjadi setelah pada Rabu (26/8) IHSG ditutup turun 95,98 poin atau 1,48 persen ke posisi 6.405,69, sedangkan LQ45 terkoreksi 1,46 persen menjadi 632,55.

Salah satu faktor utama yang menjadi perhatian investor adalah risiko stabilitas keamanan dalam negeri, terutama menjelang aksi demonstrasi yang dijadwalkan berlangsung di sekitar Gedung DPR/MPR RI hari ini.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai pelaku pasar mencermati perkembangan situasi keamanan nasional bersamaan dengan kondisi fundamental ekonomi makro.

Investor berharap aksi demonstrasi berlangsung secara damai dan tidak berkembang menjadi gangguan keamanan yang lebih luas.

“Perhatian pasar tertuju pada stabilitas keamanan nasional serta faktor fundamental ekonomi makro. Pelaku pasar berharap aksi demonstrasi berjalan damai, sehingga stabilitas keamanan dalam negeri terjaga,” ujar Nico dikutip Antara News, Rabu (26/8/2026).

Selain faktor keamanan, pasar domestik juga memperhatikan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia. Fitch Ratings menilai asumsi pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen pada 2027 yang tercantum dalam RAPBN 2027 lebih realistis.

Penilaian tersebut memberikan sinyal positif karena target pertumbuhan yang dianggap lebih masuk akal dapat meningkatkan kredibilitas proyeksi fiskal pemerintah.

Namun, Fitch juga mengingatkan terdapat sejumlah risiko yang dapat mengganggu pencapaian target tersebut, antara lain ketidakpastian geopolitik, kenaikan harga minyak dunia, serta kemungkinan kebijakan fiskal yang kurang disiplin.

Bagi investor saham, faktor-faktor tersebut penting karena dapat memengaruhi pertumbuhan laba perusahaan, inflasi, nilai tukar rupiah, biaya produksi, hingga keputusan investasi.

Perhatian investor juga tertuju pada proses uji kelayakan dan kepatutan calon Gubernur Bank Indonesia (BI), dengan Destry Damayanti sebagai calon tunggal yang diusulkan pemerintah.

Posisi Gubernur BI menjadi penting bagi pasar karena arah kebijakan bank sentral akan menentukan respons terhadap berbagai persoalan ekonomi, termasuk inflasi, suku bunga, nilai tukar rupiah, dan arus modal asing.

Kemajuan pembicaraan di Timur Tengah juga memengaruhi pergerakan IHSG. Adanya informasi mengenai perkembangan pembicaraan Pakistan dengan Iran untuk mengakhiri perang, ikut mengurangi kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi.

Iran dan Oman juga disebut membahas rencana pembentukan koridor transit sementara melalui Selat Hormuz sekaligus upaya membersihkan ranjau dari jalur perairan tersebut.

Tak hanya itu, pasar juga mencermati perkembangan ekonomi China, khususnya pertemuan Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional yang berlangsung pada 25–28 Agustus 2026.

Pertemuan tersebut menjadi perhatian investor karena ekonomi China menghadapi sejumlah data yang relatif lemah dan pemerintah berulang kali menyampaikan komitmen untuk memperkuat pertumbuhan.

Kebijakan stimulus atau dukungan ekonomi dari China dapat berpengaruh terhadap pasar regional, termasuk Indonesia, mengingat China merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.