Koma.id – Lima wartawan masih belum ditemukan setelah hilang kontak saat melakukan perjalanan menuju kawasan Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, Banten. Tim SAR gabungan telah melakukan pencarian di sekitar Pulau Rakata dan Pulau Panjang, namun belum menemukan keberadaan rombongan maupun speedboat yang mereka gunakan.
Rombongan tersebut total delapan orang, terdiri atas lima wartawan, seorang nahkoda atau kapten kapal, satu anak buah kapal (ABK), dan seorang pemandu atau guide.
Ditpolairud dan Basarnas Kerahkan KN Tetuka Cari 5 Wartawan Hilang Kontak di Perairan Anak Krakatau
Kelima wartawan yang berada dalam rombongan tersebut yakni :
– M. Bagus Khoirunnas dari Antara Foto,
– Arie Basuki dari Merdeka.com,
– Yudhistiro Pranoto dari iNews,
– Firdaus Wajidi dari Anadolu Turki, serta
– Donal Husni yang merupakan pewarta foto freelance.
Sementara tiga orang lainnya adalah :
– Warta (55) selaku kapten kapal,
– Surakman (60) sebagai ABK, dan
– Heriyanto (49) yang tercatat sebagai pemandu atau guide.
Berangkat dari Carita
Berdasarkan laporan Operasi SAR H.1 Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, rombongan berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB.
Mereka menggunakan speedboat untuk menuju kawasan Gunung Anak Krakatau guna melakukan peliputan aktivitas gunung api tersebut. Perjalanan diperkirakan memakan waktu sekitar dua jam.
Rombongan awalnya diketahui berencana menuju Pulau Sebesi. Perjalanan tersebut direncanakan sebagai perjalanan pulang-pergi tanpa menginap.
Sebelum berangkat, awak kapal disebut hanya membawa satu boks makanan yang disiapkan oleh istri kapten kapal untuk dikonsumsi bersama selama perjalanan.
Komunikasi dengan rombongan masih sempat dilakukan setelah mereka bertolak dari Carita. Pada pukul 14.42 WIB, salah seorang jurnalis mengirimkan titik lokasi terakhir atau share location kepada rekannya di Lampung. Posisi tersebut berada di antara Carita dan kawasan Gunung Anak Krakatau.
Dalam laporan awal Basarnas, rombongan kemudian disebut mengalami hilang kontak. Sementara berdasarkan laporan Operasi SAR H.1, pada pukul 18.13 WIB posisi rombongan disebut telah berada di sekitar Gunung Anak Krakatau.
Rilis bersama Pewarta Foto Indonesia (PFI) juga mencatat pukul 18.13 WIB sebagai waktu ketika komunikasi dengan rombongan dinyatakan hilang sepenuhnya.
Kapal Tak Ditemukan di Pulau Sebesi
Informasi mengenai hilangnya kontak dengan rombongan baru diterima Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten pada Selasa (8/9/2026) pukul 13.55 WIB dari Bayu, jurnalis Antara Banten.
Tim Rescue Unit Siaga SAR (USS) Pandeglang kemudian mendatangi Dermaga Pagedongan untuk mencari informasi mengenai kapal yang digunakan rombongan.
Dari keterangan yang diperoleh, speedboat milik Lurah Carita tersebut diketahui berangkat dari Dermaga Pagedongan pada Senin (7/9/2026) pukul 14.00 WIB dan hingga Selasa belum kembali.
Pemilik kapal juga disebut belum mendapatkan informasi dari kru kapal mengenai keberadaan mereka.
Tim SAR selanjutnya melakukan pencarian di sejumlah lokasi yang diduga berkaitan dengan perjalanan rombongan.
Pada pencarian hari pertama, satu unit Rigid Inflatable Boat (RIB) melakukan penyisiran di sekitar Pulau Rakata dan Pulau Panjang dengan radius sekitar 3,2 kilometer dari Gunung Anak Krakatau. Namun, pencarian tersebut belum membuahkan hasil.
Hingga sekitar pukul 18.15 WIB, keberadaan delapan orang yang berada di dalam speedboat belum ditemukan.
Sementara itu, kapal Basarnas KN SAR Tetuka diberangkatkan menuju sekitar lokasi kejadian untuk mendukung operasi pencarian. Kapal tersebut akan digunakan sebagai posko pergerakan tim SAR dalam melanjutkan pencarian pada hari berikutnya.
Diduga Berbelok ke Pulau Rakata
Hingga Selasa malam, Basarnas juga belum menemukan kapal yang membawa rombongan tersebut di Dermaga Pulau Sebesi.
Kondisi itu memunculkan dugaan bahwa speedboat tidak melanjutkan perjalanan ke Pulau Sebesi seperti rencana awal. Kapal diduga berbelok menuju kawasan Pulau Rakata.
Atas dugaan tersebut, tim SAR berencana memperluas pencarian ke kawasan Pulau Rakata pada Rabu (9/9/2026).
“Kami akan melanjutkan operasi pencarian besok (Rabu),” demikian informasi yang diterima terkait rencana operasi SAR.
Perbedaan kondisi jaringan komunikasi di Pulau Sebesi dan Pulau Rakata juga menjadi salah satu hal yang diperhatikan dalam pencarian.
Di Pulau Sebesi, jaringan telepon seluler tersedia sehingga komunikasi masih memungkinkan dilakukan. Sementara di Pulau Rakata, sinyal telepon disebut tidak tersedia di kawasan bawah pulau.
Sinyal Telkomsel dilaporkan baru dapat diperoleh secara terbatas apabila seseorang mendaki hingga ke bagian puncak bukit di Pulau Rakata.
Kondisi tersebut menjadi salah satu kemungkinan yang diperhitungkan dalam upaya mencari keberadaan rombongan yang hingga kini belum dapat dihubungi.
PFI Pantau Pencarian
Di tengah proses pencarian, organisasi Pewarta Foto Indonesia (PFI) turut memantau perkembangan operasi SAR.
Ketua Umum PFI Pusat Dwi Pambudo mengatakan keselamatan para jurnalis dan kru kapal menjadi prioritas utama.
“Keselamatan rekan-rekan jurnalis di lapangan adalah prioritas tertinggi yang tidak bisa ditawar. PFI Pusat bersama PFI Jakarta dan PFI Tangerang terus bergerak satu komando dalam memantau operasi penyelamatan ini,” ujar Dwi.
Dwi juga mengapresiasi langkah cepat Basarnas dan Ditpolairud Polda Banten dalam melakukan pencarian di tengah kondisi lapangan yang sulit.
“Kami mengapresiasi gerak cepat Basarnas dan jajaran Ditpolairud Polda Banten yang menembus medan sulit di tengah paparan abu vulkanik serta tingginya ombak. Kami berharap seluruh jurnalis dapat segera ditemukan dalam kondisi sehat dan selamat tanpa kurang satu apa pun,” katanya.
PFI juga mengimbau para pewarta foto dan kru media yang masih melakukan peliputan di sekitar wilayah terdampak aktivitas Gunung Anak Krakatau untuk mematuhi batas radius aman yang direkomendasikan PVMBG.
Pencarian Dilanjutkan Rabu
Operasi pencarian melibatkan sejumlah unsur SAR dan aparat, di antaranya kru KN SAR Tetuka, rescuer USS Pandeglang, Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Polairud Polda Banten, Polairud Mabes Polri, Polsek Carita, Lanal, Satpol PP, Babinsa, Kecamatan Carita, pemerintah desa, Balawista, nelayan, masyarakat, serta media lokal.
Sejumlah peralatan juga dikerahkan, mulai dari KN SAR Tetuka, RIB, rescue car, truk personel, drone thermal, peralatan SAR air, peralatan medis, hingga perangkat komunikasi.
Pencarian dilakukan di tengah kondisi perairan Selat Sunda yang dinamis. Cuaca dilaporkan cerah berawan, dengan angin bergerak dari selatan ke utara sekitar 14 knot dan tinggi gelombang berkisar 0,4 hingga 1 meter. Sebaran abu vulkanik di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau juga menjadi kondisi yang harus diperhitungkan dalam operasi.
Hingga akhir operasi SAR hari pertama, delapan orang yang berada di dalam speedboat masih belum ditemukan. Tim SAR akan kembali melakukan pencarian pada Rabu (9/9/2026) dengan memperluas penyisiran di kawasan Pulau Rakata dan wilayah perairan di sekitarnya untuk memastikan keberadaan rombongan beserta kapal yang mereka gunakan.












