Koma.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, semakin sulit dipadamkan. Luas area terdampak kini mencapai sekitar 520 hektare, sementara sejumlah titik api masih belum sepenuhnya padam.
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyebut salah satu opsi untuk membantu pemadaman melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) belum dapat dilakukan karena kondisi atmosfer di kawasan Bromo belum memenuhi syarat.
Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kemenhut Satyawan Pudyatmoko mengatakan, OMC membutuhkan keberadaan awan konvektif yang sesuai untuk dilakukan penyemaian.
Gempa Susulan di NTT Capai 7.492 Kejadian
“Sebenarnya kita sudah berpikir untuk melakukan modifikasi cuaca, tetapi menurut BMKG paling tidak sampai 10 hari ke depan belum mungkin dilakukan karena awan konveksinya belum terbentuk untuk membuat OMC,” kata Satyawan di Jakarta, Senin (10/8/2026).
Menurut Satyawan, OMC merupakan upaya untuk meningkatkan potensi hujan dengan menyemai garam atau natrium klorida (NaCl) ke dalam gumpalan awan menggunakan pesawat khusus. Pelaksanaannya dilakukan berdasarkan data dan analisis ilmiah dengan melibatkan BNPB, BMKG, serta TNI Angkatan Udara.
ZERO CURANMOR & ZERO WASTE! Bang Jali Bongkar Pilar 3 dan 4 di Hadapan Juri Jakarta Innovation Award
Karena kondisi awan belum memungkinkan, penanganan kebakaran untuk sementara tetap mengandalkan operasi pemadaman dari darat dan udara.
Kebakaran di kawasan Bromo diketahui telah berlangsung sejak awal Agustus 2026. Balai Besar TNBTS mencatat luas area terdampak mencapai sekitar 520 hektare dan proses pendataan masih terus dilakukan.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni sebelumnya menyebut pemadaman dari udara menggunakan water bombing menjadi salah satu upaya utama yang dilakukan untuk menjangkau lokasi-lokasi yang sulit didatangi petugas melalui jalur darat.
Operasi pemadaman menghadapi sejumlah kendala, terutama kondisi medan yang sulit, angin kencang, serta kelembapan udara yang rendah. Kondisi tersebut membuat api lebih mudah menyebar dan menyulitkan petugas mengendalikan titik-titik api.
Selain water bombing, pasukan darat juga terus dikerahkan untuk melakukan pemadaman sekaligus melokalisasi api agar tidak semakin meluas.
Pemerintah juga telah menutup seluruh akses masuk wisata ke kawasan Gunung Bromo sebagai bagian dari upaya penanganan kebakaran sekaligus memastikan keselamatan pengunjung. Penutupan berlaku di sejumlah pintu masuk kawasan TNBTS hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Terkait penyebab kebakaran, Kemenhut menyerahkan proses penyelidikan kepada aparat penegak hukum. Sebelumnya, Balai Besar TNBTS menyebut kebakaran diduga berkaitan dengan aktivitas manusia berdasarkan lokasi awal munculnya titik api di Blok Bantengan.
Hingga kini, pemerintah masih memprioritaskan pengendalian titik api melalui pengerahan personel darat dan dukungan pemadaman udara. OMC baru dapat dipertimbangkan kembali apabila kondisi atmosfer, khususnya keberadaan awan konvektif, memenuhi persyaratan teknis.









