Koma.id | Jakarta – Industri penerbangan global tengah diguncang akibat eskalasi konflik Amerika Serikat–Israel melawan Iran. Penutupan sejumlah bandara utama di Timur Tengah, termasuk Bandara Internasional Dubai yang sudah lima hari tidak beroperasi, membuat harga tiket pesawat rute Asia menuju Eropa melonjak hingga puluhan juta rupiah.
Maskapai besar seperti Emirates dan Qatar Airways, yang biasanya mendominasi jalur transit Teluk, kini kehilangan kapasitas signifikan. Akibatnya, penumpang beralih ke jalur alternatif melalui hub di China, Singapura, Turki, hingga Amerika Serikat, memicu lonjakan harga di maskapai lain.
Harga Tiket Melonjak
- Singapore Airlines: Penumpang asal Inggris melaporkan harus membayar £1.900 (Rp38,6 juta) sekali jalan dari London ke Sydney, jauh di atas harga normal.
- Cathay Pacific: Tiket ekonomi Hong Kong–London baru tersedia 11 Maret dengan harga HK$21.158 (Rp42,6 juta).
- Thai Airways: Rute Bangkok–London untuk 15 Maret dijual seharga 71.190 baht (Rp35,7 juta).
- Air China: Tiket ekonomi Beijing–London nyaris tidak tersedia; kelas bisnis dijual hingga 50.490 yuan (Rp110 juta).
Managing Director Flight Centre Travel Group, Andrew Stark, mencatat lonjakan panggilan darurat pelanggan hingga 75% sejak krisis dimulai. Penumpang asal Australia kini memilih rute alternatif melewati Asia Timur atau Amerika Utara.
Ketua Association of Asia Pacific Airlines, Subhas Menon, menegaskan penutupan wilayah udara Timur Tengah membuat biaya operasional maskapai melonjak. “Jika Eropa hanya dapat dilayani dengan biaya tinggi, profitabilitas maskapai akan terganggu. Pada akhirnya, harga yang harus dibayar adalah konektivitas,” ujarnya.
Konsultan Alton Aviation menilai maskapai seperti Cathay Pacific, Singapore Airlines, dan Turkish Airlines berpotensi meraup keuntungan jangka pendek karena limpahan penumpang dari maskapai Teluk. Namun, harga tiket di maskapai tersebut juga meroket akibat lonjakan permintaan.









