Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
HeadlineNasional

Gunung Anak Krakatau Terus Erupsi, Warga Diingatkan Risiko Tsunami Mendadak

×

Gunung Anak Krakatau Terus Erupsi, Warga Diingatkan Risiko Tsunami Mendadak

Sebarkan artikel ini
Img 20260906 Wa0007
Aspek ratio foto Ilustrasi dirubah dengan menggunakan AI (Foto / Istimewa)

Koma.id Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda mengalami erupsi menerus. Aktivitas vulkanik tersebut memicu sebaran abu hingga puluhan ribu kaki dan berdampak terhadap sejumlah wilayah di Pulau Jawa dan Sumatera, termasuk mengganggu operasional penerbangan.

Di tengah aktivitas erupsi tersebut, potensi tsunami akibat longsoran tubuh gunung api ke laut kembali menjadi perhatian. Risiko ini berkaca pada bencana tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 yang terjadi bukan akibat gempa bumi tektonik, melainkan longsoran sebagian tubuh Gunung Anak Krakatau ke laut.

Silakan gulirkan ke bawah

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) saat ini terus melakukan pemantauan terhadap kondisi laut di sekitar Selat Sunda.

Hingga Minggu (6/9/2026) pukul 07.00 WIB, BMKG menyatakan belum menemukan anomali muka air laut yang mengarah pada ancaman tsunami. Pemantauan dilakukan melalui 20 sensor tsunami gauge serta teknologi High-Frequency (HF) Radar Array di Carita dan Tanjung Lesung.

Analisis BMKG juga menunjukkan probabilitas tsunami saat pemantauan berada pada tingkat rendah, yakni di bawah 40 persen, dengan tinggi gelombang laut sekitar satu meter.

Erupsi Menerus Sejak 5 September

Badan Geologi mencatat Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus pada Sabtu (5/9/2026) sekitar pukul 23.07 WIB. Erupsi disertai suara gemuruh dan semburan berwarna merah menyala yang terlihat terus-menerus.

Fenomena tersebut disebut menyerupai lava fountain atau pancaran lava berbentuk air mancur yang dapat menghasilkan aliran lava.

Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada Level III atau Siaga. Aktivitas erupsi tipe Strombolian sendiri telah berlangsung sejak 2 Juli 2026, dengan lontaran batu pijar dan abu vulkanik yang terus dipantau.

Sejarah Anak Krakatau menunjukkan bahwa aktivitas vulkaniknya memang perlu mendapat perhatian serius. Pada 22 Desember 2018, longsoran tubuh gunung yang masuk ke laut memicu tsunami yang menerjang pesisir Banten dan Lampung.

Peristiwa tersebut tidak didahului gempa tektonik besar sehingga menjadi salah satu contoh tsunami nontektonik yang sulit dideteksi dengan sistem peringatan tsunami berbasis gempa.

Peta Risiko: Tsunami Bisa Tiba dalam Hitungan Menit

Risiko longsoran tubuh Anak Krakatau menjadi perhatian karena letaknya berada di tengah Selat Sunda dan sebagian tubuh gunung berada di atas laut.

Dalam skenario risiko yang tergambar pada peta potensi tsunami, apabila terjadi longsoran besar dari tubuh Anak Krakatau ke laut, gelombang dapat mencapai sejumlah wilayah pesisir dalam waktu relatif singkat.

Perkiraan waktu kedatangan gelombang dalam skenario tersebut antara lain:

– Kepulauan di Selat Sunda: sekitar 10–15 menit;
– Pantai Anyer dan sekitarnya: sekitar 20–25 menit;
– Kota Serang: sekitar 25–30 menit;
– Pandeglang: sekitar 30–35 menit;
– Pesisir Lampung: sekitar 30–40 menit.

Angka tersebut merupakan skenario pemodelan risiko, bukan prediksi bahwa tsunami akan terjadi saat ini.

Dengan jarak yang sangat dekat antara sumber longsoran dan kawasan pesisir, masyarakat memang memiliki waktu yang relatif singkat apabila tsunami nontektonik benar-benar terjadi.

Ratusan Ribu Penduduk Masuk Wilayah Berisiko

Peta risiko tersebut juga menggambarkan besarnya populasi yang dapat terdampak apabila skenario tsunami terjadi.

Wilayah dengan jumlah penduduk lebih dari 100.000 jiwa yang masuk dalam zona berisiko tinggi antara lain:

– Anyer dan sekitarnya: lebih dari 126.000 jiwa;
– Serang: lebih dari 720.000 jiwa;
– Pandeglang: lebih dari 117.000 jiwa.

Besarnya populasi tersebut membuat kesiapsiagaan masyarakat menjadi faktor penting dalam mengurangi risiko korban.

BMKG sendiri telah mengingatkan bahwa masyarakat pesisir Selat Sunda perlu memahami jalur serta lokasi evakuasi dan mengikuti informasi resmi apabila sewaktu-waktu terdapat peringatan evakuasi.

Tsunami Anak Krakatau Berbeda dengan Tsunami Gempa

Tsunami akibat longsoran gunung api memiliki karakter berbeda dengan tsunami yang dipicu gempa tektonik.

Pada tsunami akibat gempa, sistem peringatan dapat memanfaatkan data gempa untuk memperkirakan kemungkinan terjadinya tsunami. Namun, pada tsunami akibat longsoran tubuh gunung api, gelombang dapat terbentuk sangat dekat dengan sumbernya.

BMKG mencatat tsunami Selat Sunda pada 2018 sebagai salah satu contoh tsunami nontektonik. Saat itu, longsoran lereng Gunung Anak Krakatau ke laut yang dipicu aktivitas erupsi menghasilkan gelombang tsunami tanpa didahului gempa bumi tektonik yang signifikan.

Karena itu, tanda-tanda alam di wilayah pesisir menjadi sangat penting untuk diperhatikan.

Masyarakat yang berada di pantai perlu segera menjauh menuju tempat yang lebih tinggi apabila melihat air laut tiba-tiba surut atau naik secara tidak wajar, mendengar suara gemuruh dari arah laut, atau melihat gelombang besar datang.

Dalam kondisi tersebut, masyarakat tidak disarankan menunggu informasi lebih lanjut jika tanda bahaya sudah terlihat.

Abu Vulkanik Meluas hingga Jawa dan Sumatera

Selain potensi bahaya di laut, erupsi Anak Krakatau saat ini juga berdampak terhadap atmosfer dan aktivitas penerbangan.

BMKG berdasarkan analisis citra satelit pada Minggu (6/9/2026) pukul 08.00 WIB mengidentifikasi dua klaster utama sebaran abu vulkanik.

Abu pada ketinggian hingga 20.000 kaki bergerak ke arah timur laut hingga selatan, mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat dan perairan sekitarnya.

Sementara abu pada ketinggian hingga 50.000 kaki bergerak ke arah barat daya hingga barat laut, mencakup Banten, Lampung, Bengkulu, bagian selatan Selat Sunda hingga Samudra Hindia.

Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta bahkan telah menerbitkan 50 Significant Meteorological Information atau SIGMET sejak erupsi awal pada 4 September 2026.

Sebaran abu tersebut berdampak langsung terhadap penerbangan. Sejumlah bandara ditutup sementara, yakni Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II dan Budiarto.

209 Penerbangan Terdampak

Dampak paling besar terjadi di Bandara Soekarno-Hatta. Sebanyak 209 penerbangan terdampak akibat penutupan sementara bandara, dengan sekitar 22.800 penumpang terkena dampaknya.

Kementerian Perhubungan memperpanjang penghentian sementara operasional Bandara Soekarno-Hatta hingga pukul 09.30 WIB karena sebaran abu vulkanik masih menjadi pertimbangan keselamatan penerbangan.

BMKG menegaskan keputusan terkait operasional penerbangan dilakukan secara dinamis berdasarkan perkembangan sebaran abu vulkanik.

Masyarakat Diminta Tidak Panik

Di tengah meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau, BMKG meminta masyarakat tetap tenang tetapi meningkatkan kewaspadaan.

Masyarakat diminta tidak mempercayai informasi yang belum terverifikasi dan hanya mengikuti perkembangan dari BMKG, Badan Geologi/PVMBG, BNPB, pemerintah daerah, serta instansi resmi lainnya.

Khusus warga yang tinggal di pesisir Selat Sunda, kesiapsiagaan menjadi hal utama.

Sebab, meski saat ini belum ada indikasi tsunami, pengalaman 2018 menunjukkan bahwa longsoran tubuh Gunung Anak Krakatau dapat memicu tsunami nontektonik dengan waktu tiba yang sangat singkat.

Karena itu, memahami jalur evakuasi, mengenali tanda-tanda alam, dan segera bergerak ke tempat yang lebih tinggi ketika muncul indikasi tsunami menjadi bagian penting dari upaya penyelamatan diri.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.