Koma.id – Pakar ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Bengkulu, Surya Vadiantara, mengatakan fundamental mental ekonomi Indonesia jauh lebih baik dibandingkan Sri Lanka yang saat ini mengalami krisis ekonomi yang berdampak ke sektor politik.
“Jadi sebenarnya kalau kita analisis dalam pendekatan ekonomi diluar konteks politik, menurut saya penyebab utama kenapa Sri Lanka sampai begitu karena cadangan devisa mereka rendah. Kenapa rendah? Karena Sri Lanka tidak memiliki kemampuan secara ekonomi untuk melakukan produksi dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri mereka,” kata Surya kepada Koma.id, Senin (11/7/2022).
Surya menegaskan, ketahanan pangan Sri Lanka yang rendah karena bergantung pada impor atas kebutuhan pokok mereka sehingga hari ini terjadi krisis yang berujung mundurnya Presiden Sri Lanka.
“Jadi ketahanan pangan di mereka itu rendah, maka kemudian mereka sangat bergantung pada impor atas kebutuhan pokok tersebut. Memang ada pelajaran yang bisa kita ambil dari krisis atau resesi yang melanda Sri Lanka. Pertama, kita tidak bisa bergantung kepada impor terus menerus,” katanya.
Namun, kata Surya, kondisi ini berbanding terbalik dengan Indonesia yang dimana sektor pertaniannya sudah menunjukan hasil yang baik seperti tidak melakukan impor beras dalam waktu tiga tahun belakangan ini.
“Pelajaran yang kita ambil dari Sri Langa kita harus terus menjaga ketahanan pangan kita kemudian hingga hari ini meskipun kemarin sempat dilanda pandemi, perekenomian kita terkontraksi cukup dalam tapi nyatanya pertumbuhan sektor pertanian kita masih positif. Nah ini kan tentu menjadi indikasi bahwa kita lebih kuat dibandingkan Sri Lanka,” ujarnya.
Jadi, tegas Surya, ada dua faktor yang membedakan Indonesia dengan Sri Langka, pertama kebutuhan pokok Indonesia tidak impor beras selama tiga tahun terakhir. Kedua, selama pandemi kemarin data menunjukan bahwa di sektor pertanian Indonesia positif meskipun di sektor lain perekonomian mengalami terkontraksi selama pandemi.
“Kemudian devisa. Oke Sri Lanka tidak memiliki kemampuan produksi kebutuhan pokok dalam negerinya mereka juga memiliki cadangan devisa yang sedikit. Jadi segala produksi untuk kebutuhan pokok itu sedikit nah cadangan devisanya pun rendah karena mereka tidak melakukan ekspor yang masif,” tegasnya.
“Seharusnya kan bisa ditutup, oke pangannya rendah tapi sektor industri yang lain signifikan pertumbuhannya. Jadi cadangan devisanya bisa terus terjaga. Terkait devisa ini memang, cadangan devisa kita perlu kita jaga jangan sampai cadev ini terlampau rendah sehingga untuk kebutuhan yang lain tidak hanya pangan terutama yang impor, kita tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan itu,” katanya.
Surya kembali menjelaskan bahwa sektor fundamental Indonesia jauh lebih kuat dari pada Sri Lanka namun harus tetap hati-hati degan dua faktor tersebut yakni produksi kebutuhan pokok dan cadangan devisa.
“Kita harus produksi sektor pertanian, kedua cadangan devisa juga harus dijaga. Kalau dua itu tidak dijaga ya kita bisa kayak Sri Lanka. Ini kan pelajaran yang bisa kita ambil kan bahkan mereka merembet ke sektor politik akhirnya kan. Jangan sampai kita kayak gitu. Apa yang sudah dilakukan pemerintah hari ini sudah cukup baik. Kualitas produksi pangan kita bagus, cadangan devisa kita masih terjaga,” pungkasnya.
Seperti diktahui, Presiden Sri Lanka, Gotabaya Rajapaksa akan mengundurkan diri pada 13 Juli 2022. Gotabaya mundur setelah krisis ekonomi melanda dan memicu aksi protes di mana masyarakat sampai menggeruduk kediamannya.
Krisis yang terjadi di Sri Lanka sebenarnya telah dimulai sejak 2019. Berdasarkan laporan Nikkei dikutip detikcom, Minggu (10/7/2022), krisis yang terjadi saat ini diawali dengan insiden pengeboman di Kolombo dan kota-kota lain pada April 2019 yang menewaskan lebih 250 orang.
Kejadian itu memberikan pukulan serius bagi industri pariwisata dan diperparah dengan hadirnya pandemi COVID-19.
Arus mata uang asing susut tajam karena turis meninggalkan Sri Lanka, dan pengiriman uang dari 1,5 juta pekerja Sri Lanka yang tinggal di luar negeri anjlok. Sri Lanka juga mendapat pukulan inflasi yang tinggi dari krisis rantai pasok global.
Masalah tak berhenti di situ, meroketnya harga komoditas setelah invasi Rusia ke Ukraina juga memperparah keadaan. Hal itu memicu kenaikan biaya impor, penurunan cadangan devisa, kekurangan pasokan, dan inflasi yang tinggi.














