Koma.id – Ekonom dan Direktur Center of Reform on Economics (Core) Piter Abdullah, mengatakan pemerintah sejauh ini sudah berupaya menjaga inflasi dengan mempertahankan subsidi untuk komoditas energi yang harganya sudah naik di tingkat global, meskipun kebijakan tersebut meningkatkan beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Bank Indonesia juga menahan inflasi dengan melakukan pengetatan likuiditas yaitu dengan menaikkan Giro Wajib Minimum (GWM), walaupun masih menahan suku bunga acuan,” katanya, Senin (18/7/2022).
Bank Indonesia juga diprediksi segera menaikkan suku bunga BI 7 Day Reverse Repo Rate ketika inflasi sudah melonjak naik.
“Kalau melihat stand-nya BI sekarang ini saya perkirakan maksimal 50 basis poin (bps) sampai akhir tahun 2022,” ujar dia.
Ditegaskan dia, inflasi Indonesia diprediksi bertahan di kisaran 4,5 persen sampai 5,5 persen secara tahunan, selama pemerintah tidak menaikkan harga pertalite, gas 3 kg, dan listrik 900 VA.
Inflasi Indonesia diprediksi bertahan di kisaran 4,5 persen sampai 5,5 persen secara tahunan, selama pemerintah tidak menaikkan harga pertalite, gas 3 kg, dan listrik 900 VA.
“Tetapi kalau pemerintah menaikkan harga pertalite, gas 3 kg dan listrik 900 VA, inflasi akan lebih tinggi di atas 6 persen,” ujarnya.













