Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Ekonomi

BI Ungkap Penyebab Rupiah Rentan Tertekan Dolar

×

BI Ungkap Penyebab Rupiah Rentan Tertekan Dolar

Sebarkan artikel ini
Destry Damayanti
Destry Damayanti, senior deputy governor of Bank Indonesia, during a news conference in Jakarta, Indonesia, on Wednesday, May 22, 2024. Indonesia’s central bank left its benchmark interest rate steady after a surprise rate hike last month reduced the pressure on the currency. Photographer: Dimas Ardian/Bloomberg

Koma.id– Bank Indonesia (BI) mengungkap salah satu faktor struktural yang membuat nilai tukar rupiah masih rentan mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi tersebut berkaitan dengan neraca transaksi berjalan Indonesia yang secara historis cenderung berada dalam posisi defisit.

Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, karakteristik perekonomian Indonesia sebagai negara berkembang membuat defisit transaksi berjalan menjadi salah satu tantangan yang perlu diperhatikan dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

Silakan gulirkan ke bawah

Menurut Destry, kondisi transaksi berjalan Indonesia berbeda ketika pandemi Covid-19 berlangsung. Pada periode tersebut, aktivitas ekonomi dan permintaan domestik mengalami pelemahan sehingga tekanan terhadap transaksi berjalan ikut berubah.

“Indonesia ini negara berkembang, kita selalu menghadapi current account deficit, kecuali pada Covid, di mana pada saat itu economic activity-nya melemah. Negara dengan current account deficit, cenderung currency-nya akan rentan,” ucap Destry dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR, Senin (28/9/2026).

Destry menjelaskan, defisit transaksi berjalan pada dasarnya mencerminkan kebutuhan pembiayaan eksternal suatu negara. Ketika kebutuhan valuta asing lebih besar, kondisi tersebut dapat meningkatkan kerentanan nilai tukar, terutama ketika terjadi perubahan sentimen di pasar keuangan global.

Karena itu, Indonesia membutuhkan sumber pembiayaan yang mampu menopang perekonomian dalam jangka panjang. Salah satu instrumen yang dinilai penting adalah aliran modal masuk melalui investasi langsung atau Foreign Direct Investment (FDI).

Investasi langsung memiliki karakteristik berbeda dibandingkan aliran modal portofolio yang dapat bergerak lebih cepat mengikuti perubahan kondisi pasar. Masuknya investasi jangka panjang diharapkan dapat membantu memperkuat sumber pembiayaan eksternal sekaligus mengurangi tekanan terhadap nilai tukar.

Namun, Destry mengakui bahwa mendatangkan modal jangka panjang dalam jumlah yang memadai masih menjadi pekerjaan rumah bagi Indonesia.

Kerentanan tersebut terlihat dari perkembangan transaksi berjalan Indonesia sepanjang 2026. Berdasarkan data BI, defisit transaksi berjalan pada kuartal II 2026 tercatat mencapai 12,5 miliar dolar AS atau sekitar 3,3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Defisit tersebut meningkat signifikan dibandingkan kuartal sebelumnya. Pada kuartal I 2026, transaksi berjalan Indonesia mencatat defisit sebesar 3,6 miliar dolar AS atau setara 1 persen terhadap PDB.

Pelebaran defisit pada kuartal II 2026 antara lain dipengaruhi oleh membesarnya defisit perdagangan minyak dan gas (migas). Kenaikan harga minyak dunia turut meningkatkan nilai impor energi sehingga memberikan tekanan lebih besar terhadap neraca perdagangan migas.

Di sisi lain, surplus perdagangan nonmigas juga mengalami penyempitan. Kondisi tersebut terjadi seiring meningkatnya kebutuhan impor untuk mendukung aktivitas perekonomian domestik.

Peningkatan aktivitas ekonomi domestik pada satu sisi menunjukkan adanya permintaan yang lebih kuat. Namun, ketika kebutuhan tersebut turut meningkatkan impor, kondisi itu dapat memberikan tekanan terhadap transaksi berjalan karena kebutuhan valuta asing ikut meningkat.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.