Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Ekonomi

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Ini Faktor yang Menekannya

×

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Ini Faktor yang Menekannya

Sebarkan artikel ini
Hari Ini Rupiah Mulai Menguat di Rp 16.271
Ilustrasi mata uang rupiah dan dolar AS. (Foto / Istimewa)

Koma.id – Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (29/9/2026). Pelemahan tersebut terjadi di tengah menguatnya dolar AS dan meningkatnya tekanan dari pasar keuangan global.

Rupiah sempat berada di kisaran Rp18.012 per dolar AS pada perdagangan Selasa pagi. Posisi tersebut menjadi salah satu level terlemah rupiah dalam beberapa pekan terakhir.

Silakan gulirkan ke bawah

Tekanan terhadap rupiah tidak berdiri sendiri. Salah satu faktor utama berasal dari meningkatnya imbal hasil surat utang pemerintah AS atau US Treasury. Kondisi tersebut membuat aset berdenominasi dolar AS menjadi lebih menarik bagi investor dan berpotensi mendorong perpindahan dana dari negara berkembang.

Chief Economist PT Bank Permata Tbk Josua Pardede sebelumnya mengatakan tekanan terhadap rupiah saat ini terutama berasal dari kombinasi sejumlah faktor eksternal, bukan hanya satu persoalan domestik.

Menurut Josua, kenaikan kembali imbal hasil surat utang AS membuat aset dolar lebih menarik. Pada saat yang sama, selisih imbal hasil antara aset Indonesia dan AS semakin menyempit sehingga memberikan tekanan terhadap arus modal masuk ke Indonesia.

Tekanan juga datang dari harga minyak dunia yang masih tinggi. Kondisi geopolitik di Timur Tengah ikut menjaga harga minyak berada di level tinggi, bahkan sempat mendekati US$106 per barel.

Bagi Indonesia yang merupakan net importir minyak, kenaikan harga komoditas tersebut dapat meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor energi. Selain itu, harga minyak yang tinggi berpotensi menambah tekanan terhadap inflasi, fiskal, dan keseimbangan eksternal.

Josua menyebut terdapat tiga tekanan yang berlangsung bersamaan, yakni tingginya imbal hasil surat utang AS, harga minyak yang tinggi, serta melemahnya arus investasi portofolio.

Tekanan arus modal juga tercermin dari transaksi investor asing. Pada pekan hingga 25 September 2026, investor asing mencatat penjualan bersih obligasi Indonesia sekitar US$127 juta dan saham sekitar US$145 juta.

Sebelumnya, Bank Indonesia mencatat rupiah telah mengalami tekanan sepanjang September. Data JISDOR menunjukkan rupiah berada di level Rp17.917 per dolar AS pada 25 September 2026, melemah dibandingkan Rp17.898 pada 24 September dan Rp17.803 pada 23 September 2026.

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan tekanan terhadap mata uang negara berkembang tidak bisa hanya diatasi dengan menaikkan suku bunga.

Menurut Destry, kondisi global yang disebut higher for longer dapat meningkatkan tekanan terhadap negara-negara emerging market, termasuk melalui arus modal yang masuk ke negara berkembang.

“Higher for longer” membuat investor memiliki kecenderungan mempertahankan dana pada aset negara maju ketika imbal hasilnya dinilai lebih menarik. Kondisi tersebut kemudian dapat memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang.

Di sisi lain, Bank Indonesia memilih mempertahankan BI-Rate pada level 5,75 persen dalam keputusan Rapat Dewan Gubernur September 2026.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI mengandalkan bauran kebijakan, termasuk intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore.

BI juga memperkuat kebijakan untuk mendorong masuknya modal asing melalui instrumen lindung nilai atau hedging serta memperluas transaksi menggunakan mata uang lokal dengan negara mitra.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea menegaskan bank sentral terus melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah.

BI menyatakan intervensi tersebut dilakukan untuk mengelola volatilitas nilai tukar sekaligus memastikan mekanisme pasar tetap berjalan dengan baik.

Dengan kondisi tersebut, level Rp18.000 per dolar AS menjadi perhatian pasar. Namun, ekonom menilai angka tersebut lebih tepat dipahami sebagai batas psikologis dalam perdagangan mata uang, bukan secara otomatis mencerminkan batas fundamental kondisi perekonomian Indonesia.

Tekanan terhadap rupiah selanjutnya masih akan dipengaruhi perkembangan dolar AS, imbal hasil aset AS, harga minyak dunia, arus modal asing, serta respons kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.