Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Keamanan

Poros Muda Indonesia Minta Jaga Kondusifitas di Jakarta

×

Poros Muda Indonesia Minta Jaga Kondusifitas di Jakarta

Sebarkan artikel ini
Frans Freddy Poros Muda Indonesia
Ketua Umum Poros Muda Indonesia, Frans Freddy (tengah).

KOMA.ID, JAKARTA – Menjelang rencana aksi penyampaian pendapat di depan Gedung DPR RI pada 27 Agustus 2026, seluruh elemen masyarakat diminta bersama-sama menjaga Jakarta agar tidak berubah menjadi ruang konflik maupun kerusuhan.

Ketua Umum Poros Muda Indonesia, Frans Freddy, SH., MH., mengajak masyarakat, peserta aksi, pemerintah, dan aparat keamanan mengedepankan sikap dewasa dalam menghadapi dinamika politik dan sosial yang berkembang.

Silakan gulirkan ke bawah

Menurut Frans, penyampaian aspirasi merupakan bagian dari kehidupan demokrasi. Namun, kebebasan tersebut harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab untuk menjaga keamanan, ketertiban, serta persatuan bangsa.

“Jakarta adalah rumah kita bersama. Sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaga, merawat, dan membangun kota ini dengan semangat kebersamaan. Kota yang aman dan tertib akan menciptakan ruang yang nyaman bagi masyarakat untuk bekerja, berusaha, dan menjalani kehidupan sehari-hari,” ujar Frans Freddy hari ini.

Ia menilai Jakarta memiliki posisi penting karena menjadi tempat bertemunya masyarakat dari berbagai daerah, suku, budaya, dan latar belakang. Karena itu, setiap dinamika yang terjadi di ibu kota harus dijaga agar tidak berkembang menjadi konflik sosial yang lebih luas.

Frans secara khusus mengingatkan agar rencana aksi 27 Agustus tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin menciptakan kekacauan.

Menurutnya, peserta aksi maupun aparat perlu memiliki komitmen yang sama untuk memastikan kegiatan berlangsung secara damai dan tertib.

Ia meminta peserta aksi menyampaikan aspirasi secara bertanggung jawab tanpa melakukan perusakan fasilitas umum, kekerasan, penjarahan, maupun tindakan lain yang dapat merugikan masyarakat.

Sebaliknya, aparat keamanan juga diharapkan mengedepankan pendekatan persuasif dan profesional selama mengawal kegiatan penyampaian pendapat.

“Jangan sampai perbedaan pandangan politik kemudian berubah menjadi permusuhan antarsesama anak bangsa. Aspirasi boleh berbeda, tetapi persatuan dan kepentingan Indonesia harus tetap menjadi yang utama,” katanya.

Frans juga memberikan apresiasi terhadap upaya Polri dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat melalui pendekatan Presisi, yakni Prediktif, Responsibilitas, dan Transparansi Berkeadilan.

Menurutnya, pendekatan tersebut harus terus dikedepankan dalam menghadapi setiap kegiatan masyarakat, termasuk demonstrasi.

“Keamanan bukan hanya tugas aparat penegak hukum, melainkan hasil dari kolaborasi seluruh elemen bangsa yang memiliki kepedulian terhadap masa depan kota ini,” tegas Frans.

Ia berharap aparat dapat mengantisipasi potensi provokasi maupun tindakan pihak-pihak yang berusaha menunggangi aksi untuk kepentingan tertentu.

Di sisi lain, peserta aksi juga diminta tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi dan tetap mengikuti arahan koordinator lapangan.

Lebih lanjut, Frans mengajak generasi muda mengambil peran dalam menjaga suasana Jakarta tetap kondusif. Menurutnya, pemuda tidak seharusnya menjadi bagian dari kelompok yang memperuncing perbedaan atau menyebarkan provokasi.

Sebaliknya, anak muda harus menjadi pelopor toleransi, kedisiplinan, kepedulian sosial, serta persatuan.

“Jakarta jangan sampai menjadi panggung pertarungan yang memecah belah bangsa. Kita boleh mengkritik pemerintah, boleh menyampaikan tuntutan, tetapi jangan pernah menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk menghancurkan rumah kita sendiri,” ujarnya.

Frans menegaskan, demokrasi akan menjadi kuat apabila kebebasan menyampaikan pendapat diiringi kedewasaan dalam menghormati hak masyarakat lainnya.

Karena itu, ia mengajak seluruh pihak yang terlibat dalam dinamika aksi 27 Agustus untuk menahan diri dan mengutamakan kepentingan bangsa.

“Mari kita jaga Jakarta Presisi, aman, dan tertib bersama. Jakarta rumah kita bersama. Jangan sampai aksi menyampaikan aspirasi justru menciptakan kerusuhan dan disintegrasi bangsa,” pungkas Frans Freddy.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.