Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Polhukam

Mahfud MD Soal Dugaan Penguntitan Tiyo : Kerja Intelijen Memang Begitu, Asal Keamanan Tetap Dijaga

Views
×

Mahfud MD Soal Dugaan Penguntitan Tiyo : Kerja Intelijen Memang Begitu, Asal Keamanan Tetap Dijaga

Sebarkan artikel ini
Pelacakan
Ilustrasi pelacakan.

KOMA.ID, JAKARTA – Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Mahfud MD, menilai dugaan penguntitan terhadap Ketua BEM UGM 2025, Tiyo Ardianto, perlu dilihat secara proporsional dari dua sudut pandang, yakni hak warga negara atas rasa aman dan kebutuhan negara menjalankan fungsi intelijen demi menjaga stabilitas keamanan.

Mahfud mengaku memahami reaksi Tiyo yang marah setelah menemukan alat pelacak pada kendaraan yang digunakannya. Namun, di sisi lain, ia juga memahami bahwa aktivitas pemantauan merupakan bagian dari kerja intelijen dalam mengantisipasi potensi gangguan keamanan.

Silakan gulirkan ke bawah

“Kalau dari sudut Tiyo, saya kira ya pantes marah dia diperlakukan begitu. Tapi kalau dari sudut keamanan dan intelijen, kan tugasnya intelijen harus melacak orang-orang yang punya potensi nanti membuat kebakaran amarah gitu ya,” kata Mahfud MD dalam podcast Terus Terang, dikutip Rabu (17/6/2026).

Menurut Mahfud, masyarakat tentu bisa merasa tidak nyaman jika mengetahui dirinya dipantau atau dilacak. Namun ia mengingatkan bahwa negara juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga keamanan dan ketertiban secara menyeluruh.

“Saya kira itu kita juga marah dengan cara itu, tapi kita harus memahami juga, negara ini harus aman juga gitu,” ujarnya.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu bahkan mengaku selama bertahun-tahun dirinya menyadari bahwa aktivitasnya kemungkinan besar ikut dipantau oleh aparat intelijen. Namun ia memilih menyikapi hal tersebut secara santai selama dilakukan dalam koridor menjaga keamanan negara.

“Saya misalnya, saya tahu persis saya ini pasti disadap, pasti monitor. Tapi saya senang aja, saya bersyukur Alhamdulillah kalau ada yang buntuti saya dan monitor saya, karena pasti menjadi tahu bahwa saya tidak melakukan apa-apa, tidak menggalang kekuatan apa, mengumpulkan siapa, semuanya tahu,” ungkapnya.

Mahfud menegaskan, selama seseorang tidak memiliki niat buruk terhadap bangsa dan negara, aktivitas pemantauan tidak perlu ditanggapi secara berlebihan. Baginya, yang terpenting adalah keamanan semua pihak tetap terjaga.

“Silakan disadap, saya senang malah kalau disadap. Karena kita maunya baik gitu, yang penting keamanan dijaga, kita saling menjaga keamanan masing-masing,” tegas Mahfud.

Sebagai tokoh yang pernah memimpin sektor politik dan keamanan nasional, Mahfud menilai operasi pemantauan, penyadapan, maupun pengumpulan informasi merupakan bagian dari tugas rutin intelijen. Bahkan, menurutnya, aparat intelijen justru dapat dianggap lalai apabila mengabaikan potensi ancaman yang perlu dipantau.

“Kalau di dalam ilmu intelijen ya harus dilakukan, kalau anda lalai itu kesalahan dan anda bisa disalahkan, itu tugas biasa saja menurut saya ya yang pernah berkecimpung di dunia yang seperti itu,” katanya.

Meski demikian, Mahfud juga menyampaikan pesan khusus kepada Tiyo Ardianto agar tetap berhati-hati dalam menyampaikan kritik dan pandangan politik di ruang publik. Ia meminta aktivis mahasiswa tersebut memastikan setiap pernyataan yang disampaikan didukung data dan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Ya supaya berhati-hati, ndak usah takut. Saya melihat sekarang ini anak hanya emosinya tinggi, tapi sebenarnya isi apa yang dikatakannya itu terukur bisa dipertanggungjawabkan kalau terjadi masalah hukum, cuma dia terlalu emosional,” ujar Mahfud.

Ia menambahkan bahwa kritik politik akan lebih kuat jika dibangun di atas argumentasi yang terukur dan bukti yang jelas.

“Nah Tiyo supaya hati-hati, pertama apa yang disampaikan harus terukur mengatakan A itu harus bisa bertanggung jawabkan, ini faktanya, ini analisis psikologisnya, ini apanya gitu supaya jelas,” lanjutnya.

Mahfud pun mengingatkan bahwa ruang demokrasi tetap harus dijaga dengan mengedepankan data, argumentasi, dan keterbukaan. Menurutnya, aktivisme mahasiswa akan lebih efektif apabila dibangun di atas fakta yang kuat, bukan sekadar luapan emosi sesaat.

“Tiyo saya harap seperti Pak Amien Rais itu caranya, ketika bicara dia harus punya fakta, gitu, yang bisa dipertahankan ketika diperiksa, ya, ketika dipersoalkan oleh publik. Ini soal politik, harus terbuka juga, jangan serampang,” pungkasnya.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.