Koma.id, Jakarta – Mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, mengaku pernah mendapatkan tawaran dari seseorang yang disebut sebagai utusan sebuah “lembaga berbintang” agar menghentikan aktivitas kritiknya terhadap pemerintah. Pengakuan tersebut disampaikan Tiyo saat menjadi narasumber dalam Dialog Kebangsaan di Makassar.
Pernyataan itu disampaikan Tiyo di tengah polemik terkait temuan benda yang diduga alat pelacak pada mobil yang digunakannya. Menurutnya, setelah mengungkap dugaan tersebut ke publik, ia menerima beragam respons, mulai dari dukungan hingga tudingan bahwa peristiwa itu hanya rekayasa untuk mencari simpati publik.
“Apa yang orang-orang pikirkan setelah saya ungkapkan kejadian ini? Beberapa yang waras kemudian mengingatkan agar terus berhati-hati. Karena sudah sangat serius ini ancamannya,” ujar Tiyo.
Ia mengklaim mendapat informasi dari rekannya mengenai adanya upaya mengalihkan perhatian publik dengan mengangkat isu lain terkait kasus tersebut.
“Tapi beberapa yang lain, rasanya ini secara masif digerakkan entah oleh kekuatan apa. Bahkan saya dapat bocoran dari teman saya bahwa memang ada request untuk mengangkat isu yang lain,” katanya.
Tiyo juga membantah tuduhan yang menyebut dirinya sengaja merekayasa cerita mengenai alat pelacak tersebut. Ia menegaskan tidak memiliki kepentingan untuk menciptakan kebohongan publik.
“Kalau saya menciptakan kebohongan publik, maka silakan potong telinga saya. Silakan penjara saya,” tegasnya.
Selain menanggapi isu alat pelacak, Tiyo turut menjelaskan soal Toyota Fortuner yang digunakan saat kejadian. Menurutnya, kendaraan tersebut bukan miliknya, melainkan dipinjamkan oleh kerabat yang khawatir terhadap keselamatannya.
Ia mengatakan kekhawatiran itu muncul setelah sejumlah aktivis yang kritis terhadap pemerintah mengalami intimidasi. Karena itu, keluarganya meminta dirinya lebih berhati-hati dalam menjalankan aktivitas.
“Mobil itu dipinjamkan kepada saya sejak saya mengalami berbagai teror. Terutama sejak Andrie Yunus disiram air keras,” ujarnya.
Tiyo menegaskan dirinya tidak memiliki kepentingan untuk memamerkan kendaraan mewah. Ia menyebut mobil tersebut digunakan semata-mata karena tersedia dan dipinjamkan oleh keluarganya.
Lebih lanjut, Tiyo menilai bentuk tekanan terhadap aktivis saat ini tidak lagi dilakukan melalui intimidasi fisik secara langsung, melainkan melalui upaya pembentukan opini negatif di ruang publik.
“Ini cara-cara kerja yang lebih mutakhir daripada penculikan, yaitu pembunuhan karakter,” kata Tiyo.
Ia menilai narasi yang kerap diarahkan kepada aktivis kritis adalah anggapan bahwa kritik muncul karena tidak mendapatkan akses terhadap kekuasaan. Menurutnya, pola tersebut sering digunakan untuk mendiskreditkan kritik yang disampaikan kepada pemerintah.
Hingga saat ini belum terdapat tanggapan dari pihak pemerintah terkait klaim yang disampaikan Tiyo Ardianto tersebut.













