KOMA.ID, JAKARTA – Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memberikan dukungan moral kepada diplomat senior Dino Patti Djalal yang belakangan menjadi sorotan setelah menyampaikan kritik dan masukan terkait intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto.
Dukungan tersebut disampaikan Anies melalui unggahan di media sosialnya. Ia mengenang sosok Dino sebagai diplomat yang telah lama mengabdikan diri untuk Indonesia dan memiliki rekam jejak kuat dalam dunia diplomasi internasional.
Menurut Anies, dirinya pertama kali mendengar nama Dino Patti Djalal ketika masih menjadi mahasiswa di Universitas Gadjah Mada (UGM). Saat itu, Dino yang masih berstatus diplomat muda Indonesia tampil dalam forum internasional yang disiarkan BBC World Debate.
Kebakaran Hebat Landa Pasar Jiung Kemayoran, Ratusan Warga Panik Selamatkan Barang Dagangan
“Saat masih kuliah di UGM, saya mendengar kabar seorang diplomat muda Indonesia di London berani tampil di BBC World Debate, berhadapan dengan diplomat senior Ramos Horta, di saat atmosfer internasional sedang menyudutkan Indonesia,” kata Anies di akun X pribadi @aniesbaswedan, Selasa (2/6/2026).
Ia menilai penampilan Dino kala itu berhasil menjaga kehormatan Indonesia di tengah tekanan internasional.
“Diplomat muda Indonesia itu tampil gemilang menjaga nama Indonesia tegak berwibawa. Di situlah pertama kali saya mendengar namanya: Dino Patti Djalal,” ujarnya.
Anies kemudian menceritakan pertemuan langsungnya dengan Dino saat menempuh studi doktoral di Illinois, Amerika Serikat. Menurutnya, Dino menunjukkan kapasitas sebagai diplomat yang mampu menjelaskan berbagai persoalan kompleks dengan tenang dan argumentatif.
“Yang kami temui adalah diplomat muda yang cerdas, artikulatif, dan mampu menangani persoalan rumit dengan ketenangan diplomatik yang sulit ditiru,” ungkap Anies.
Ia juga menyoroti kontribusi Dino saat menjabat Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat. Salah satu inisiatif yang dikenangnya adalah penyelenggaraan Kongres Diaspora Indonesia pertama di Los Angeles pada 2012 yang mempertemukan warga Indonesia dari berbagai negara.
Menurut Anies, langkah tersebut menjadi fondasi penting dalam memperkuat jejaring diaspora Indonesia di tingkat global.
“Ia lalu mendirikan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), komunitas kebijakan luar negeri terbesar dan berpengaruh, yang ikut melahirkan generasi diplomat baru, ujung tombak kita di panggung global,” katanya.
Anies menegaskan bahwa kritik dan masukan yang disampaikan Dino kepada pemerintah perlu ditempatkan dalam konteks pengalaman panjangnya sebagai diplomat dan pengamat hubungan internasional.
“Menguasai substansi, rekam jejaknya teruji, dan pengalaman memimpinnya luas. Itulah Dino. Karier diplomatiknya panjang dan ajeg, kecintaannya pada politik luar negeri Indonesia begitu dalam,” ujar Anies.
Pada bagian akhir pernyataannya, Anies menyampaikan kalimat yang dinilai sebagai pembelaan terbuka terhadap kredibilitas Dino Patti Djalal di tengah polemik dengan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
“Dino Patti Djalal, bukan karbitan jadi diplomat, bukan pula karbitan jadi pejabat,” tegasnya.
Pernyataan Anies muncul setelah Teddy Indra Wijaya merespons kritik Dino terkait lawatan luar negeri Presiden Prabowo. Dalam tanggapannya, Teddy menyebut Dino sebagai diplomat hebat yang pernah menjabat Wakil Menteri Luar Negeri, namun menyelipkan sindiran bahwa jabatan tersebut hanya diemban selama sekitar tiga bulan.
Respons Teddy itu kemudian memicu perdebatan di ruang publik dan memunculkan sejumlah dukungan kepada Dino dari berbagai kalangan yang menilai kritik terhadap pemerintah merupakan bagian dari tradisi demokrasi yang sehat.













