Koma.id– Wakil Ketua DPD RI, Yorrys Raweyai, menyoroti meningkatnya eskalasi kekerasan di wilayah Papua sepanjang 2025 hingga April 2026. Dalam periode tersebut, tercatat puluhan insiden yang melibatkan berbagai pihak dan mengakibatkan ratusan korban jiwa.
Menurut Yorrys, kekerasan tidak hanya menimpa masyarakat sipil, tetapi juga aparat keamanan serta kelompok bersenjata yang dikenal sebagai OPM, TPNPB, maupun KKB. Ia menilai situasi ini menunjukkan konflik yang semakin kompleks dan belum tertangani secara menyeluruh.
Salah satu insiden terbaru terjadi pada 14 April 2026 di Kabupaten Puncak, Papua Tengah. Peristiwa tersebut menyebabkan sembilan orang meninggal dunia, termasuk seorang balita, serta tujuh orang lainnya mengalami luka berat. Selain korban jiwa, ratusan warga dilaporkan mengungsi dan kehilangan akses terhadap kebutuhan dasar.
“Semua korban itu anak bangsa. Setiap nyawa yang hilang merupakan luka bagi Indonesia,” ujar Yorrys dikutip.
Ia menyebut wilayah Papua Pegunungan dan Papua Tengah sebagai daerah yang paling terdampak. Ribuan warga di wilayah tersebut kehilangan tempat tinggal, mata pencaharian, serta akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan.
Selain faktor keamanan, Yorrys juga menyoroti persoalan ekonomi yang masih menjadi tantangan serius. Ia menyebut tingkat kemiskinan di Tanah Papua secara konsisten berada pada level tertinggi secara nasional.
Lebih jauh, ia menilai belum tuntasnya sejumlah kasus pelanggaran HAM turut memperdalam ketidakpercayaan masyarakat terhadap negara dan memperpanjang siklus konflik yang terjadi.
“Sayangnya, hingga saat ini belum terlihat grand design dan road map yang komprehensif dan terbuka kepada publik terkait penyelesaian konflik Papua secara menyeluruh,” kata dia.







