Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Politik

Pilkada Langsung vs DPRD : Aljabar Strategic : Fokus Pembenahan Cegah Politik Uang

Views
×

Pilkada Langsung vs DPRD : Aljabar Strategic : Fokus Pembenahan Cegah Politik Uang

Sebarkan artikel ini
Arifki Chaniago
Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Aljabat Strategic Indonesia, Arifki Chaniago.

KOMA.ID, JAKARTA – Pengamat politik Arifki Chaniago memberikan tanggapan terkait dengan perdebatan soal mekanisme pemilihan kepala daerah yang kembali membuka peta kepentingan partai politik.

Di mana Partai Golkar, Partai Amanat Nasional, dan Partai Kebangkitan Bangsa menyatakan dukungan terhadap pilkada lewat DPRD. Sebaliknya, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Demokrat menolak skema tersebut.

Silakan gulirkan ke bawah

Pengamat politik, Arifki Chaniago menilai perbedaan sikap ini bukan sekadar soal idealisme demokrasi, melainkan cermin kalkulasi untung–rugi yang berbeda di antara partai. Pilkada langsung memberi legitimasi kuat karena kepala daerah dipilih langsung oleh pemilih. Namun konsekuensinya adalah biaya politik tinggi dan kontestasi yang rawan money politic.

“Partai yang mendukung pilkada langsung tampak masih melihat nilai elektoral dari hubungan langsung dengan pemilih. Di sisi lain, partai yang menolak membaca mahalnya pilkada sebagai beban sistemik yang tak pernah benar-benar diselesaikan,” kata Arifki kepada wartawan, Rabu (24/12/2025).

Menurutnya, pilkada lewat DPRD kerap dipromosikan sebagai solusi efisiensi. Namun argumen itu menyimpan masalah lain. Proses pemilihan memang lebih murah secara anggaran negara, tetapi risiko transaksi politik justru berpindah ke ruang yang lebih sempit, tertutup, dan sulit diawasi publik.

“Yang terjadi bukan penghapusan biaya politik, melainkan konsentrasinya. Dari biaya kampanye massal ke lobi elite. Dari keramaian pemilih ke ruang-ruang tertutup DPRD,” ujarnya.

Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia ini pun menilai, bahwa perdebatan mekanisme pilkada berpotensi menyesatkan jika tidak disertai pembahasan serius soal tata kelola pemilu. Masalah utama pemilu Indonesia, kata dia, bukan terletak pada cara memilih, melainkan pada lemahnya penegakan hukum dan minimnya pencegahan politik uang.

“Selama pelanggaran pemilu jarang berujung sanksi tegas, sistem apa pun akan bocor. Mengganti pilkada langsung ke DPRD tanpa membenahi penegakan hukum hanya mengubah bentuk masalah, bukan isinya,” tuturnya.

Ia menambahkan, publik berisiko kembali “membeli kucing dalam karung” jika kepala daerah dipilih tanpa keterlibatan langsung warga, sementara mekanisme pengawasan elite politik belum cukup kuat.

“Pilkada langsung memang mahal dan gaduh. Tapi pilkada lewat DPRD berisiko mahal secara kepercayaan publik. Dalam demokrasi, defisit kepercayaan sering kali lebih berbahaya daripada defisit anggaran,” ujarnya.

Menurutnya, fokus pembenahan seharusnya diarahkan pada penguatan penyelenggara pemilu, konsistensi penegakan hukum, dan strategi nyata mencegah politik uang.

“Tanpa itu, perdebatan soal mekanisme pilkada akan terus berulang—dan demokrasi tetap berjalan di tempat,” pungkas Arifki.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.