Koma.id– Dugaan korupsi dalam proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh terus menjadi sorotan publik. Desakan untuk segera diusut kini mengarah pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yang dinilai lamban dan tidak tegas dalam menindaklanjuti temuan ini .
Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI), Boyamin Saiman, secara terbuka mengkritik kinerja KPK. Menurutnya, KPK bertindak ngawur dengan hanya menunggu laporan resmi dan dinilai hanya mau yang gampang saja dalam mengusut kasus ini.
Sementara itu, Akademisi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun dalam sebuah dialog televisi membeberkan sejumlah indikasi korupsi lainnya. Dia menyatakan proyek Whoosh sejak awal tidak efisien dan molor dari jadwal yang direncanakan.
Lebih lanjut, Ubedilah menduga kuat adanya transaksi gelap yang terlihat dari perubahan aturan dasar proyek. Awalnya, proyek ini berdasarkan skema Business-to-Business (B2B) tanpa melibatkan dana APBN dan tanpa jaminan pemerintah, sebagaimana diatur dalam Perpres No. 107 Tahun 2015







