Koma.id, Malang, Jawa Timur — Ulama kontroversial asal India, Dr Zakir Naik, kembali menginjakkan kaki di Indonesia dalam rangkaian safari dakwah bertajuk Visit to Indonesia 2025. Salah satu kota yang disambangi adalah Kota Malang, di mana ia menyampaikan ceramah di Stadion Gajayana, Kamis (10/7). Ribuan jemaah dari berbagai daerah terlihat memadati stadion demi mendengarkan langsung kajian dari ulama kondang ini.
Namun, kehadiran Zakir Naik tidak sepenuhnya disambut positif. Sejumlah kelompok masyarakat menolak acara tersebut, menilai isi ceramah Zakir Naik berpotensi memecah kerukunan antarumat beragama.
Kelompok Arek Malang Bersuara (AMB), melalui juru bicara Abdul Aziz Masrib, menyatakan kekhawatiran mereka bahwa kehadiran Zakir Naik bisa menimbulkan ketegangan sosial.
“Kami tidak menolak kegiatan keagamaan, tapi yang kami khawatirkan adalah rekam jejak Dr Zakir Naik yang kerap menyampaikan narasi yang dinilai provokatif dan bisa merusak keharmonisan masyarakat,” tegas Abdul Aziz.
Sementara itu, panitia lokal acara, Hakim, membantah anggapan tersebut. Ia menyebut ceramah Zakir Naik di Malang mengambil tema “Nabi Muhammad SAW dalam Perspektif Berbagai Agama”, dan justru bertujuan menjalin pemahaman antarumat.
“Ceramah beliau bersifat ilmiah, tidak ada unsur provokasi. Bahkan, banyak hadirin non-Muslim yang hadir dengan damai,” kata Hakim.
Dalam ceramahnya, Zakir Naik menyampaikan bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci universal, dan siapa pun yang membacanya dengan hati terbuka akan mengakui bahwa isinya adalah wahyu Allah.
Tak hanya Zakir Naik, Farid Naik, putranya yang juga dai muda, ikut menyampaikan pesan spiritual. Dalam momen itu, Farid juga menyerukan dukungan atas pembebasan Palestina, yang disambut takbir oleh para jemaah.
Ceramah ini merupakan bagian dari kunjungan kedua Zakir Naik ke Indonesia, setelah safari dakwah pertamanya pada tahun 2017 lalu yang juga menuai antusias sekaligus kontroversi.
Acara di Malang ini kembali menghidupkan perdebatan tentang batas antara kebebasan berdakwah dan pentingnya menjaga kerukunan antarumat di Indonesia yang plural.







