Polri Masih Dicintai Rakyat, Perlu Dijaga
JAKARTA – Ketua Presidium JARI98, Willy Prakarsa menilai bahwa Polri adalah sebuah lembaga yang sangat penting di Indonesia. Peran utama sebagai pengayom, pelindung dan pelayanan masyarakat dalam aspek keamanan dan penegakan hukum harus didukung oleh masyarakat.
Hal ini disampaikan Willy dalam podcast dengan tema “Polisi Dibenci (Sesaat) Tapi Dirindu (Selamanya), Mewujudkan Asta Cita Pemerintah Menuju Indonesia Emas 2045” yang diselenggarakan oleh Koma Indonesia, Jumat (13/12).
Frans Freddy Soroti Kericuhan Diskusi di UGM: Kampus Harus Jadi Arena Adu Gagasan, Bukan Adu Emosi
“Kita harus memberikan edukasi yang baik kepada masyarakat Indonesia, apa itu Polri, tupoksinya apa, keberadaannya di Indonesia sebagai pemelihara keamanan dan ketertiban,” kata Willy.
Dalam konteks dinamika sosial saat ini, ia juga sebenarnya menyayangkan adanya narasi “Partai Cokelat” yang diasumsikan kepada Polri dalam kontestasi Pilkada 2024.
Ghilman Hanif Ingatkan Kritik Mahasiswa Harus Jadi Bahan Evaluasi, Bukan Ancaman bagi Pemerintah
Ia tak sependapat dengan narasi semacam itu hanya karena kekalahan politik maupun atas dasar sentimen apa pun. Karena jika pun ada oknum Polri yang melakukan pelanggaran, tak bisa serta merta dialamatkan bahwa itu adalah pelanggaran Polri dalam perspektif instansi.
“Soal parcok, taruhlah estimasi jumlah keseluruhan personil 500 ribu, apa bisa jadi partai? Siapa yang jadi donaturnya?,” ujarnya.
Lantas, Willy juga menyindir pihak yang memberikan label Parcok kepada oknum anggota yang mungkin melakukan pelanggaran pemilu agar menjadi donatur saja sehingga diksi Partai Cokelat bisa direalisasikan. Sebab tak mungkin institusi Polri menjadi partai politik.
“Yang bilang Polri partai coklat, modalin dong, biar bisa menang,” ketus Willy.
Listyo Dianggap Kapolri Terbaik Saat Ini
Kemudian, aktivis 98 ini pun menilai bahwa Jenderal Listyo Sigit Prabowo adalah sosok Kapolri terbaik saat ini. Ia bahkan mampu mengejawantahkan karakter Jenderal Hoegeng Iman Santoso, sosok Kapolri yang dianggap masih terbaik hingga saat ini.
“Kapolri ini the best setelah Hoegeng. Beliau mau nyanyi berdendang bersama dengan musisi jalanan. Humanis, nggak garang. Mampu meminimalisir anggaran, mampu memelihara semua jaringan-jaringan,” terang Willy.
Oleh sebab itu, ia menyayangkan adanya pihak yang mendiskreditkan Kapolri dengan sebutan pelanggar HAM hingga memaska agar Presiden Prabowo Subianto segera mencopot.
“Dosa besar loh kalau memojokkan beliau. Beliau orang mukhlisin. Ikhlas. Saya percaya Presiden Prabowo dan Wapres Gibran sangat cinta Listyo Sigit Prabowo,” tukasnya.
Sementara terkait dengan desakan pencopotan Kapolri dan tudingan Kapolri Listyo melanggar HAM sebagaimana disebutkan salah satu aktivis Hak Asasi Manusia, ia mengaku paham dengan situasi itu. Willy yakin ada agenda tersendiri di balik seriuan copot Kapolri tersebut.
“Soal pelanggaran HAM, Usman Hamid kemarin bilang Polri melanggar HAM. Saya paham, ini sinyalemen ada oknum ngebet jadi Kapolri lalu menggunakan seperti kacamata kuda,” tandasnya.
Hanya saja ia tak ingin terlalu merespons hal itu. Sebab jika berkaca pada aturan yang ada, pencopotan Kapolri paling tidak didasari atas dua hal, yakni memasuki usia pensiun serta diganti atas dasar hak prerogatif Presiden.
Namun ia yakin Presiden Prabowo Subianto memiliki alasan yang kuat mengapa Listyo Sigit Prabowo maupun Agus Subiyanto masih bertahan sebagai Kapolri dan Panglima TNI. Willy menilai Prabowo nyaman dan percaya dengan kemimpinan keduanya di institusi tersebut.
“Usman Hamid ini kita tanggapi positif saja. Jadi kembali ke UU, semua di tangan presiden, ini berkelanjutan dari Jokowi ke Prabowo. Kenapa Kapolri dan Panglima TNI tidak diganti, ya karena nyaman. Why not? Prabowo bukan orang bodoh loh,” ucapnya.
Lebih lanjut, Willy juga memberikan respons atas seriusn anggota DPR RI dari Fraksi PDIP yakni I Wayan Sudirta. Yakni agar Polri dilucuti senjatanya dan diganti dengan pentungan saja.
“Senyumin aja, demokrasi Indonesia sudah baik berjalan. Pemerintahan Prabowo sangat demokratis. Suka-suka mereka, mungkin mereka orang-orang sakit hati. Memangnya satpol PP? Masa mau hadapi daerah kriminal, mau dikasih Pentungan untuk nyawa?,” terangnya.
Sementara terkiat dengan ketegasan Listyo saat ini, Willy yakin percaya bahwa Kapolri saat ini sudah sangat berintegritas. Sehingga ia menilai Listyo masih patut dan sangat kualitatif menjadi Kapolri.
“Ini kan baru isu (pencopotab kapolri dan pelucutan senjata api -red). Demokratis saja. Yang salah dicopot. Tegas lho Kapolri, beliau berani mencopot Bintang 2. Maha benar netizen dengan segala celotehnya. Kita senyumin aja. Presisi, prediktif, transparan juga,” pungkasnya.













