Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Polhukam

Pakar Komunikasi Apresiasi Polri Rangkul Ulama Cegah Polarisasi Pemilu 2024

Views
×

Pakar Komunikasi Apresiasi Polri Rangkul Ulama Cegah Polarisasi Pemilu 2024

Sebarkan artikel ini
Pakar Komunikasi Apresiasi Polri Rangkul Ulama Cegah Polarisasi Pemilu 2024

Koma.id Pakar komunikasi dari Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi – Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa AWS), Dwi Prasetyo mengapresiasi Polri merangkul ulama jelang Pemilu 2024.

Hal ini dilakukan dalam rangka mencegah terjadinya polarisasi dan isu-isu sensitif sepanjang gelaran pesta demokrasi lima tahunan.

Silakan gulirkan ke bawah

“Pemilihan Umum adalah periode kritis dimana tingkat ketegangan sosial dan potensi konflik dapat meningkat. Melibatkan ulama dan tokoh masyarakat dalam komunikasi dapat membantu meminimalkan risiko konflik dan gangguan selama proses Pemilu,” jelas Dwi Prasetyo.

Wakil Ketua I Stikosa AWS ini juga mengatakan, ketika ulama dan tokoh masyarakat mendukung upaya kepolisian dalam menjaga keamanan dan ketertiban selama Pemilu, hal ini dapat membangun kepercayaan masyarakat terhadap aparat kepolisian.

“Ini penting untuk memastikan kerjasama dan partisipasi masyarakat dalam menjaga ketertiban,” tegasnya.

Dalam situasi politik yang semakin panas, isu-isu sensitif dan polarisasi bisa muncul. Komunikasi yang baik dengan ulama dan tokoh masyarakat dapat membantu dalam menangani isu-isu ini secara bijak dan memberikan pandangan yang lebih moderat dan rekonsiliasi kepada masyarakat.

“Tokoh agama dan masyarakat sering memiliki akses yang lebih baik ke informasi di tingkat masyarakat. Meningkatkan komunikasi dengan mereka dapat membantu polisi dalam memahami dinamika lokal dan memperoleh intelijen yang lebih baik terkait potensi ancaman selama Pemilu,” tambahnya.

Lewat proses komunikasi ini pihak kepolisian juga berpeluang untuk memperoleh dukungan publik. Dukungan dari tokoh agama dan masyarakat, kata Dwi Prasetyo, dapat membantu polisi dalam meredam potensi gangguan selama Pemilu.

“Mereka dapat membantu dalam menyuarakan pesan-pesan penting terkait perdamaian dan ketertiban selama proses Pemilu,” katanya.

“Di Indonesia, faktor agama sering menjadi salah satu sumber potensi konflik. Melibatkan ulama dalam komunikasi dapat membantu mencegah penyalahgunaan agama untuk tujuan politik dan menjaga stabilitas,” tambah Dwi Prasetyo lagi.

Komunikasi yang baik dengan ulama dan tokoh masyarakat, menurutnya, adalah bagian dari pendekatan yang demokratis dalam menjalankan Pemilu. Ini menunjukkan bahwa kepolisian menghormati beragam pandangan dan bersedia berkomunikasi dengan berbagai elemen masyarakat.

“Dengan menjalin kerjasama yang baik dan komunikasi yang efektif dengan ulama dan tokoh masyarakat, Kapolres Salatiga berupaya untuk menciptakan lingkungan yang aman, damai, dan kondusif selama Pemilu, serta memastikan suksesnya proses demokrasi tanpa gangguan yang signifikan,” pungkasnya.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.